REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi, Jawa Barat kepada ratusan pekerjanya, menjadi sinyal kuat industri di sektor garmen sedang mengalami fase waspada. Kondisi ekonomi global disebut menjadi pemicu utamanya.
"Ya kondisi usaha di Cimahi khususnya garmen, kita kemarin komunikasi dengan kalamgan pengusaha. Memang sedang tidak baik-baik saja, sudah lumayan lama ya," kata Kepala Bidang Hubungan Industrial pada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cimahi, Muhammad Faisal saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga- Tangis Buruh PT Namnam usai Terkena PHK
- Sidak Perusahaan di Cimahi Usai PHK Massal, Penasihat Khusus Presiden Temukan Kejanggalan
- Isu PHK Buruh Garmen di Cimahi, Ini Penjelasan Menperin
Faisal menyebutkan beberapa penyebab ambyarnya sektor garmen di Kota Cimahi, karena kondisi global. Diawali dengan pandemi COVID-19, perang di Timur Tengah, rupiah yang terus melemah, berujung pada sepinya order yang masuk.
"Ya banyak faktornya, secara makro kan memang kondisi di global. Terakhir kan perang di Timur Tengah itu membuat order sepi, kemudian rupiah melemah dan akhirnya bahan baku mahal," kata Faisal.
Pengusaha kelabakan karena cost produksi tetap bahkan membengkak sementara income cenderung menurun. Ujung-ujungnya, mereka terpaksa melakukan PHK dalam rangka efisiensi bahkan sampai menutup lini bisnisnya.
"Kemarin viral soal PT. Namnam Fashion Industries melakukan PHK terhadap 178 orang karyawannya. Ya itu karena memang kondisi yang terjadi saat ini, tentunya berpengaruh terhadap angka pengangguran di Cimahi," kata Faisal.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika