REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM – Aksi penyerbuan besar-besaran ke Masjid Al-Aqsa pada Kamis lalu dinilai sebagai peringatan dini mengenai situasi yang kemungkinan akan terjadi selama perayaan hari-hari besar Yahudi pada September dan Oktober mendatang.
Menurut laporan Yayasan Al-Quds Internasional, penyerbuan tersebut disertai upaya memperkuat sejumlah fakta baru yang bertujuan mengubah identitas dan status Masjid Al-Aqsa melalui empat jalur utama.
Baca Juga- 3 Analisis Ungkap Bagaimana Perang dengan Iran Ubah Perhitungan Kekuatan Amerika Serikat?
- Apakah China dan Rusia Bantu Iran Serang Pangkalan AS? Ini Kata Media Barat
- Simak, Ini 7 Keutamaan Penduduk Yaman yang Diungkap Rasulullah SAW
Perkembangan ini tidak dapat dipisahkan dari dukungan resmi pemerintah Israel. Sejumlah anggota kabinet dan parlemen Israel (Knesset) turut terlibat dalam mobilisasi massa untuk memasuki kompleks Al-Aqsa dalam rangka peringatan yang mereka sebut sebagai “Hari Kehancuran Bait Suci”.
Pada kesempatan itu, organisasi-organisasi pendukung pembangunan kembali Bait Suci berhasil mengerahkan sekitar 4.300 pemukim untuk memasuki kawasan Al-Aqsa, jumlah terbesar yang pernah tercatat dalam peringatan tersebut.
Berdasarkan peringatan yang disampaikan Yayasan Al-Quds Internasional, berikut gambaran mengenai status historis Masjid Al-Aqsa dan tahapan perubahan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir, sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Selasa (28/7/2026).
Siapa yang mengelola Masjid Al-Aqsa?
Pengelolaan Masjid Al-Aqsa berada di bawah otoritas Departemen Wakaf Yerusalem dan Urusan Masjid Al-Aqsa, sebuah lembaga Islam yang beroperasi berdasarkan Perwalian Hasyimiyah Yordania atas tempat suci tersebut.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika