Nasional

50 Juta Orang Tewas dalam Kelaparan Besar, Ilmuwan Khawatir El Nino 2026 Bisa Lebih Ganas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam tiga tahun, sekitar 50 juta orang tewas. Jumlah itu setara dengan gabungan korban beberapa perang besar modern. Namun penyebabnya bukan bom, bukan peluru, melainkan fenomena iklim yang...

19 Juni 2026, pukul 23:02 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam tiga tahun, sekitar 50 juta orang tewas. Jumlah itu setara dengan gabungan korban beberapa perang besar modern.

Namun penyebabnya bukan bom, bukan peluru, melainkan fenomena iklim yang kini kembali menjadi perhatian dunia: El Nino.

Baca Juga

Dari 1876 hingga 1878, sebagian wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Selatan dilanda kekeringan ekstrem. Sungai menyusut, sawah mengering, panen gagal, dan cadangan pangan habis. Di banyak tempat, kelaparan berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Peristiwa itu nyaris terlupakan dalam ingatan publik global. Padahal, sejumlah ilmuwan menyebutnya sebagai salah satu bencana lingkungan paling mematikan dalam 150 tahun terakhir.

Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Climate pada 2018, para peneliti bahkan menyatakan peristiwa El Nino 1876–1878 ikut membentuk ketimpangan global yang kemudian dikenal sebagai perbedaan antara "dunia pertama" dan "dunia ketiga".

Apa yang membuat El Niño saat itu begitu mematikan? Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan menganggap El Niño sebagai penyebab utama.

Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis menghangat secara tidak normal, mengubah pola hujan dan cuaca di berbagai belahan dunia.

Namun penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang lebih rumit. El Nino 1877 tidak bekerja sendirian.

Kondisi dingin yang berkepanjangan di Pasifik tropis, dipol Samudra Hindia yang sangat kuat, serta suhu Atlantik yang luar biasa hangat menciptakan kombinasi iklim yang sempurna untuk memicu kekeringan global.

Lalu datang faktor yang lebih berbahaya: manusia. Menurut para peneliti, jutaan kematian tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca.

Pengabaian sistem penyimpanan air tradisional, buruknya pengelolaan cadangan pangan, serta kebijakan ekonomi yang gagal memperburuk krisis hingga berubah menjadi tragedi massal.

Dengan kata lain, kekeringan memicu bencana. Tetapi kegagalan manusia membuatnya mematikan.

Selama lebih dari satu abad, Kelaparan Besar 1876–1878 menjadi pengingat tentang apa yang dapat terjadi ketika fenomena iklim ekstrem bertemu dengan masyarakat yang tidak siap.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait