REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban dunia akibat gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 91 orang hingga Ahad (23/8/2026) sore. Dari total korban jiwa itu, hampir setengahnya meninggal dunia akibat dampak tidak langsung gempa M 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan korban meninggal dunia yang tecatat tidak seluruhnya akibat terdampak langsung gempa bumi. Ia menyatakan, sekitar 49 persen korban meninggal akibat dampak tidak langsung bencana tersebut.
Baca Juga- 3.721 Korban Gempa Flores NTT Terserang ISPA, BNPB: Kebutuhan Nakes Masih Kurang
- Istana Sebut Presiden Segera Kunjungi NTT
- KDM Beri Bantuan ke Warga NTT Pakai Uang Cash
"Berdasarkan data yang diterima, 51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sedangkan sisanya, sebanyak 49 persen, meninggal disebabkan dampak tidak langsung," kata dia saat konferensi pers secara daring, Ahad sore.
Ia menyebutkan, terdapat berbagai faktor penyebab korban jiwa meninggal dunia akibat dampak tidak langsung gempa bumi. Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyebab korban meninggal akibat dampak tidak langsung itu karena ada penyakit bawaan sebelumnya seperti jantung, hipertensi, maupun diabetes.
Berton menyebutkan, korban jiwa tercatat paling banyak berasal dari Kabupaten Manggarai, yaitu 32 jiwa. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur terdapat 31 jiwa, Sikka 6 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, dan Ngada 5 jiwa.
Lihat postingan ini di Instagram
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika