Oleh Poppy Fadhilah, jurnalis Republika
JAKARTA -- Malam sudah tinggi, tapi Nadya Rizkiana Syifa (20 tahun) masih berkutat di depan laptop Asus 14” miliknya. Tik… tik… tik… Bunyi ketikan Nadya beradu dengan detak jam dinding di kamar serba pink-nya. Semua keluarganya sudah terlelap, tapi tugas Nadya masih jauh dari kata rampung. Nadya rebahan santai di kasur ditemani laptop yang setia menemani.
Antrean tugas Nadya banyak, namun pikirannya buntu. Ditambah rasa kantuk bercampur adrenalin karena tenggat waktu yang kian menyempit membuat Nadya ‘menghubungi guru privat-nya yang tidak lain dan tidak bukan bernama Artificial Intelligence (AI).
“Menurut aku, AI dalam dunia pendidikan itu adalah ibarat alat bantu serta guru private lah. Jadi yang di mana kalaupun kita butuh dan juga kita pengen tahu. Itu tuh mau dari malam, pagi, sampai kapanpun, dia bisa. Jadi ibaratnya kayak guru private yang selalu ada gitu,” ujar Nadya kepada Republika.
Nadya sendiri terbilang cukup baru kenal dengan AI, tepatnya saat dia duduk di bangku kuliahan atau sekitar tiga tahun belakangan. Ia jelas merasakan perubahan yang signifikan saat dirinya mengerjakan tugas dibanding sebelum kenal AI. Dengan hadirnya AI, Nadya tak lagi perlu mencari ide di pelbagai laman atau aplikasi, sebab sekali tanya ke AI langsung beres.
Selain itu, Nadya juga memanfaatkan AI untuk mengoreksi gaya bahasa dari tulisannya. Jika kepalanya sudah kehabisan ide saat menulis, Nadya juga ngobrol dengan AI untuk mencari inspirasi diksi-diksi yang cocok untuk dipakai saat dia melanjutkan tugasnya.
Rasa manis dari teknologi ini ternyata tak membuat Nadya gelap mata. Memang benar Nadya cukup akrab dengan AI ternama seperti Claude dan Gemini AI. Bahkan, Nadya rata-rata menghabiskan 5-10 jam per pekan untuk bercakap-cakap dengan AI.
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini membuka peluang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga bereksperimen dan membangun sistem berbasis AI. - (dok Cyber)
Kendati demikian, sebagai Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Nadya mengaku punya sejumlah batasan—atau bahasa Gen Z-nya boundaries—saat menggunakan AI untuk urusan pendidikannya. Terlebih dengan bayang-bayang Kode Etik Jurnalistik yang ingin dia pegang teguh.
“Karena aku Jurnalistik, kadang ada di mana perasaan takut ini AI nya, kalau misalkan aku pakai AI berarti aku enggak sesuai kode etik dong, atau enggak, ini bukan tulisan aku nih. Jadinya itu tadi, aku cuma ngambil poin-poinnya saja,” tutur Nadya.
Ia sadar tidak semua mahasiswa punya batasan dengan penggunaan AI. Bahkan, kata Nadya, banyak sekali temannya yang jadi memandang tugas sebelah mata karena kehadiran AI. Contohnya, saat ada tugas liputan dan membuat berita, teman-teman Nadya justru tidak turun ke lapangan dan hanya meminta AI menulis beritanya. Bagi Nadya, hal itu termasuk penyalahgunaan AI dalam dunia pendidikan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika