Nasional

AI tak Gantikan Pekerja, tapi Ubah Jenis Pekerjaannya

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di perusahaan dinilai tidak serta-merta menggantikan tenaga kerja. Teknologi ini justru membantu mengotomatisasi pekerjaan rutin sehingga karyawan dapat beralih ke tugas yang...

30 Oktober 2026, pukul 02:11 WIB · dibaca 0 kali

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di perusahaan dinilai tidak serta-merta menggantikan tenaga kerja. Teknologi ini justru membantu mengotomatisasi pekerjaan rutin sehingga karyawan dapat beralih ke tugas yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan.

Leonard Pontoh dari Shipper, perusahaan logistik berbasis teknologi, mengatakan AI digunakan untuk meningkatkan produktivitas karyawan, bukan menggantikan peran mereka.

Baca Juga

“Jadi AI itu malah kalau di kami, AI itu jauh membuat tenaga kerja lebih naik kelas, gitu,” kata Leonard dalam diskusi HSBC mengenai survei Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Menurut Leonard, AI membantu mengurangi pekerjaan administratif yang sebelumnya menyita waktu karyawan. Dengan begitu, tenaga kerja dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan pemikiran dan analisis.

Di Shipper, AI antara lain digunakan untuk mengolah dokumen penagihan dari klien dan vendor yang memiliki format berbeda-beda. Teknologi tersebut membantu menstandarkan dokumen, mempercepat rekonsiliasi, dan mendukung proses pembayaran.

Penggunaan AI juga membantu Shipper memangkas waktu pemrosesan penagihan dari 21 hari menjadi lima hari. Percepatan ini membuat dana lebih cepat kembali ke perusahaan sehingga pengelolaan modal kerja menjadi lebih efisien.

Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, mengatakan pemanfaatan AI di HSBC juga diarahkan untuk membantu karyawan bekerja lebih efisien.

Ia mencontohkan penggunaan AI untuk membantu layanan pelanggan menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang masuk. Dalam proses tersebut, AI membantu menyusun respons, sedangkan karyawan tetap menjalankan perannya dalam memberikan layanan.

“Jadi yang digantikan oleh AI apa? Routine task, misalnya,” ujar Anne.

Ia menegaskan, AI dapat meningkatkan kemampuan karyawan untuk menangani pekerjaan yang lebih kompleks. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan pengawasan manusia, terutama dalam proses yang berkaitan dengan keputusan penting.

Adopsi AI Meningkat

Survei HSBC menunjukkan, 84 persen responden dari kalangan manajer keuangan korporasi di Indonesia memperkirakan AI akan sangat bermanfaat bagi pengelolaan keuangan perusahaan atau treasury dalam tiga tahun mendatang. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 72 persen.

Dari sisi implementasi, 34 persen responden Indonesia telah menggunakan AI agent untuk meningkatkan otomatisasi, dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 17 persen.

Meski demikian, penerapan AI masih menghadapi sejumlah kendala. Sebanyak 80 persen responden Indonesia menyebut integrasi dengan sistem yang sudah ada sebagai hambatan utama. Keterbatasan tenaga ahli dan risiko penggunaan teknologi juga menjadi perhatian, masing-masing disebut oleh 40 persen responden.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya perlu mengadopsi teknologi, tetapi juga menyiapkan sistem dan sumber daya manusia agar pemanfaatannya berjalan efektif.

Di tengah meningkatnya penggunaan AI, perusahaan juga perlu memastikan karyawan memahami cara kerja teknologi tersebut dan mampu menggunakannya untuk mendukung pekerjaan, bukan sekadar mengandalkan otomatisasi.

 

Lihat di situs asli

Berita terkait