REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Asap tipis mengepul di halaman SMP Negeri 107 Jakarta. Dengan tangan yang masih tampak gugup, seorang siswa mengarahkan alat pemadam api ringan (APAR) ke titik api di hadapannya.
Beberapa temannya menyaksikan dengan antusias, sementara instruktur memberi arahan dari samping.
Baca Juga- Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
- 'Spanyol Itu Kristen Bukan Muslim', Serangan Keras ke Lamine Yamal Seusai Sujud Rayakan Gol
- Belajar dari Perang Iran, Apa yang Dipersiapkan Turki Hadapi Perang?
Tak jauh dari sana, kelompok siswa lain bergantian melakukan resusitasi jantung paru (RJP) pada manekin, mempelajari cara menyelamatkan nyawa ketika detik-detik pertama keadaan darurat terjadi.
Suasana itu mungkin bukan pemandangan yang lazim dijumpai di lingkungan sekolah menengah pertama. Namun, di sanalah para siswa tidak hanya belajar tentang keselamatan, melainkan mengalaminya secara langsung.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari K3KITA 2.0, program pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) di SMP Negeri 107 Jakarta pada 17–18 Juni 2026 lalu.
Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat serta mendapat dukungan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia.
Melalui program tersebut, sivitas akademika UI berupaya memperkuat budaya keselamatan di lingkungan pendidikan sejak usia dini.
K3KITA 2.0 diketuai oleh dosen K3 UI Abdul Kadir dan dilaksanakan bersama lima mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, satu mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, serta tiga mahasiswa relawan dari Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Program ini juga didukung oleh dosen Rahmi dari Universitas Indonesia dan Bangga Agung Satrya dari Universitas Esa Unggul.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika