REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bareskrim Polri membongkar pabrik gelap yang memproduksi vitamin sirop anak bermerek Apialys di Lampung. Produk yang dijual Rp50 ribu per botol itu diduga telah dipasarkan melalui e-commerce dan media sosial ke berbagai wilayah Indonesia sejak 2021.
Menanggapi hal ini, dokter sekaligus dosen di IPB University, dr Sulpiana, mengimbau anak yang telanjur mengonsumsi vitamin palsu tersebut segera menghentikan konsumsi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pasalnya, merujuk penjelasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), produk kesehatan palsu dapat memuat bahan aktif yang tidak sesuai, tidak mengandung bahan aktif sama sekali, bahkan mengandung zat berbahaya.
Baca Juga- Marak Kasus Anak dalam Bahaya Akibat Kelalaian Orang Tua, Psikolog Tekankan Mindful Parenting
- Melindungi Anak dari Jebakan 'Teman Maya 24 Jam' di Ruang Digital
- Orang Tua yang Tinggalkan Anak di Tenda Gunung Prau Minta Maaf, Akui Lalai
"Jadi kalau semisal anak sudah telanjur atau sedang mengonsumsi vitamin yang dimaksud, segera hentikan, dan segera periksakan ke dokter. Karena vitamin palsu itu bisa mengandung bahan atau zat berbahaya," kata dr Sulpiana dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).
Dia mengatakan tidak semua vitamin palsu langsung menimbulkan gejala. Dampaknya bergantung pada kandungan, jumlah, frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan konsumen. "Jadi orang tua harus tetap waspada. Karena tidak munculnya keluhan bukan berarti produk tersebut aman," ujar dr Sulpiana.
Untuk lebih jelasnya, berikut lima langkah yang perlu dilakukan orang tua jika anak telanjur mengonsumsi vitamin palsu menurut dr Sulpiana:
1. Segera hentikan konsumsi
Langkah pertama adalah menghentikan konsumsi produk tersebut. Anak tidak disarankan menghabiskan vitamin yang tersisa hanya karena sudah membelinya.
"Jangan mencoba menghabiskan produk hanya karena masih tersisa atau karena sudah mengeluarkan biaya untuk membelinya," kata dia.
2. Simpan kemasan dan bukti pembelian
Konsumen perlu menyimpan kemasan produk, nomor bets, dan bukti pembelian. Informasi tersebut dapat membantu mengidentifikasi produk yang telah dikonsumsi apabila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika