REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW— Penulis Geoffrey Silverman menilai bahwa pemboman udara semata tidak pernah berhasil memenangkan sebuah perang, dan kampanye udara yang kini dilancarkan terhadap Iran pun bukan pengecualian.
Dalam artikelnya yang dimuat majalah Rusia New Eastern Outlook, dikutip Aljazeera, Kamis (6/8/2026), Silverman mengatakan Amerika Serikat telah menjebak dirinya sendiri dalam pusaran perang-perang proksi.
Baca Juga- Mengapa Barat Kerap Salah Memahami Ketangguhan Sistem Politik Iran?
- AS Batal Serang Iran, Kekurangan Rudal atau Bersiap Mundur? Israel Ketar-ketir Sendiri
- Bagaimana Eks Elite Mossad Israel Berpindah dari Intelijen ke Perusahaan Keamanan dan Teknologi?
Setiap eskalasi yang dilakukan justru semakin mempersempit ruang manuver, hingga pada akhirnya perang yang tidak diinginkan siapa pun berubah menjadi kenyataan yang tak terhindarkan.
Menurutnya, berbeda dengan narasi yang berusaha dibangun pemerintah Amerika Serikat dan media arus utama, tidak ada satu pun perang yang dimenangkan hanya dengan serangan udara.
Seberapa besar pun kerusakan yang ditimbulkan kekuatan udara, penguasaan wilayah tetap membutuhkan kehadiran pasukan darat.
Silverman menilai, kini semakin jelas—bahkan bagi para pendukung paling fanatik Presiden Donald Trump—bahwa hanya ada dua pilihan yaitu menghentikan serangan udara terhadap Iran atau meningkatkannya menjadi invasi darat.
Namun pertanyaannya, bagaimana invasi itu dilakukan, dengan pasukan siapa, dan melalui jalur mana?
Dia menyebut adanya teori yang berkembang bahwa Washington akan memanfaatkan pasukan Kurdi untuk melakukan serangan darat dari wilayah Irak, sementara Amerika Serikat akan masuk melalui kawasan Teluk.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika