REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Angka partisipasi kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meningkat hingga 46 persen. Namun, capaian tersebut masih dibayangi persoalan ekonomi karena sekitar 30,9 persen siswa yang melanjutkan pendidikan berada dalam kondisi rentan terhadap kemiskinan.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu Budiantoro mendorong agar dukungan anggaran melalui Dana Keistimewaan (Danais) dapat diarahkan lebih nyata untuk memperluas akses pendidikan, termasuk melalui program beasiswa bagi warga DIY. "Ini kekhawatiran saya. Jadi 46 persen kenaikan yang tajam, tetapi dibayang-bayangi 30 persen rentan dengan kemiskinan. Ini yang perlu jadi perhatian," ujar Dwi dalam forum diskusi pendidikan di Yogyakarta, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga- Tak Jadi Diundur, PSEL di Yogya Segera Dibangun, 1.000 Ton Sampah per Hari Bakal Diolah Jadi Listrik
- Kios Terbakar di Kota Gede Yogya, 54 Tabung Gas 3 Kg Hangus
- Mahasiswa KKN UGM di Biak Pulang ke Yogyakarta Naik Airbus A400M, Ini Alasannya
Menurut Dwi, Danais selama ini belum menyentuh sektor pendidikan secara merata. Karena itu, ia berharap Danais dapat dimanfaatkan untuk memperkuat akses pendidikan warga DIY sekaligus mendukung kesejahteraan tenaga pendidik.
"Saya berharap dana keistimewaan sekali lagi mensupport keberadaan pendidikan sampai bicara tentang kesejahteraan guru. Kita masih kekurangan guru SLTA itu 1.600-an hari ini," ujarnya.
Dwi menilai, persoalan akses pendidikan tinggi tidak semata-mata berkaitan dengan keinginan masyarakat untuk kuliah, tetapi juga kemampuan ekonomi keluarga. Dia menegaskan, perlunya data yang lebih lengkap mengenai warga DIY yang melanjutkan kuliah maupun lulusan SLTA yang belum mampu meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Dengan data tersebut, kebijakan beasiswa maupun intervensi anggaran dapat lebih tepat sasaran. Walaupun kondisi anggaran terbatas, dunia pendidikan diharapkan tetap mampu menghadirkan solusi," katanya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika