REPUBLIKA.CO.ID, DOHA— Reaksi kecaman dari negara-negara Arab dan dunia internasional terhadap kebijakan ekspansi permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki terus bermunculan.
Para menteri luar negeri delapan negara Arab dan Islam menyatakan penolakan terhadap rencana permukiman “E-1” serta berbagai aktivitas permukiman ilegal yang terkait dengannya di sebelah timur Yerusalem yang diduduki.
Baca Juga- Krisis Apache dan Dilema Ketergantungan dengan AS, Ketika Persenjataan Israel Mulai Tergerus
- Ayat Kursi Jika Dibedah Ternyata Terdiri dari 10 Kalimat Penuh Makna, Berikut Penjelasannya
- Kisah Anak Kecil, Penyihir, dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting yang Patut Direnungkan
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan Jumat (22/8/2026) malam, dikutip dari Aljazeera, para menteri luar negeri Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Mesir menyatakan bahwa proyek “E-1” merupakan “eskalasi berbahaya” yang akan memperluas permukiman dan aneksasi wilayah Palestina.
Menurut mereka, proyek tersebut juga akan memutus kesinambungan geografis wilayah Palestina yang diduduki, terutama antara Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Kondisi ini dinilai mengancam kemungkinan terbentuknya negara Palestina yang merdeka, berkesinambungan secara geografis, dan layak berdiri.
Para menteri juga kembali mengecam pelanggaran dan tindakan kekerasan yang dilakukan para pemukim, dengan dukungan otoritas pendudukan Israel, terhadap rakyat Palestina dan harta benda mereka.
Mereka menegaskan bahwa solusi dua negara tetap menjadi satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk mewujudkan perdamaian yang adil, menyeluruh, dan berkelanjutan.
Rencana “E-1” sendiri mencakup tender baru Israel untuk pembangunan 1.234 unit permukiman.
وزير الخارجية الإسباني خوسيه مانويل ألباريس يدين قرار إسرائيل المضي في توسيع المستوطنات بالأراضي المحتلة، ويدعوها إلى التراجع عنه وتنفيذ حل الدولتين#الجزيرة pic.twitter.com/V3Qs7uI6q3
— قناة الجزيرة (@AJArabic) August 21, 2026
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika