REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Yayasan Hind Rajab (Hind Rajab Foundation/HRF) mendesak pemerintah Amerika Serikat menangkap dan mengadili seorang komandan militer Israel yang diduga terlibat dalam pembunuhan bocah Palestina, Hind Rajab, di Jalur Gaza pada Januari 2024. Desakan itu muncul setelah komandan bernama Sean Glass tersebut dilaporkan berada di wilayah AS.
HRF, organisasi yang berbasis di Brussel, Belgia, mengajukan permintaan darurat kepada Departemen Kehakiman AS agar membuka penyelidikan, menangkap, dan menuntut Sean Glass atas dugaan kejahatan perang dan genosida. Menurut penyelidikan organisasi tersebut, Glass memimpin Kompi Vampire Empire dari Batalion Lapis Baja ke-52, yang merupakan bagian dari Brigade Lapis Baja ke-401 militer Israel.
Dalam pernyataan pada Senin (19/10/2026), HRF menyebut Glass dan pasukan di bawah komandonya berada di sekitar kendaraan yang ditumpangi Hind ketika penembakan terjadi. Organisasi itu menduga Glass kemungkinan besar memberikan perintah untuk menembaki kendaraan tersebut.
“Bukti dalam berkas perkara ini sangat memberatkan dan jumlahnya luas,” kata Kepala Litigasi HRF, Natacha Bracq, sebagaimana dilaporkan Middle East Monitor pada Selasa (20/10/2026).
HRF meminta Departemen Kehakiman AS segera membuka penyelidikan. Organisasi itu menilai keberadaan Glass di Amerika Serikat memberikan kesempatan bagi otoritas setempat untuk mengusut dugaan kejahatan yang terjadi di Gaza.
Desakan tersebut mendapat dukungan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS dari Partai Demokrat, Rashida Tlaib. Dalam unggahan di media sosial, Tlaib menegaskan bahwa pemerintah AS memiliki kewajiban untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang tersebut.
View this post on Instagram
“Sebagai pihak dalam Konvensi Genosida dan Konvensi Jenewa, pemerintah kita berkewajiban menangkap dan menyelidikinya atas kejahatan perang dan tindakan genosida ini,” tulis Tlaib.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, Departemen Kehakiman AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Anadolu Agency. Belum ada keterangan mengenai keputusan otoritas AS atas permintaan penangkapan tersebut.
Hind Rajab dibunuh pada 29 Januari 2024 setelah kendaraan yang ditumpanginya bersama sejumlah anggota keluarga ditembaki pasukan Israel di Jalur Gaza.
Saat itu, Hind terjebak di dalam kendaraan bersama jenazah anggota keluarganya yang telah meninggal. Bocah tersebut sempat menghubungi layanan darurat Bulan Sabit Merah Palestina untuk meminta pertolongan.
Namun, upaya penyelamatan berakhir tragis. Dua paramedis yang dikirim untuk mengevakuasi Hind, Yusuf Zeino dan Ahmed al-Madhoun, juga syahid. Jenazah Hind, keluarganya, serta kedua paramedis baru ditemukan 12 hari kemudian.
Salah satu adegan di film The Voice of Hind Rajab. - (Dok. Film4 Productions/MBC Studios/Plan B)
Kasus ini memicu kemarahan internasional setelah rekaman percakapan Hind dengan petugas penyelamat tersebar luas. Suara bocah yang ketakutan dan memohon pertolongan itu kemudian menjadi simbol penderitaan anak-anak Palestina di tengah serangan Israel di Gaza.
Penyelidikan kelompok riset Forensic Architecture yang berbasis di London menemukan 335 peluru ditembakkan ke arah kendaraan tersebut. Kelompok itu juga menyatakan tidak menemukan bukti adanya baku tembak di lokasi kejadian.
Temuan tersebut memperkuat desakan agar kematian Hind dan keluarganya diusut secara independen. Meski demikian, dugaan keterlibatan Glass tetap harus diuji melalui proses penyelidikan dan pembuktian hukum.
Kasus Hind Rajab kembali menempatkan Amerika Serikat dalam sorotan terkait komitmennya terhadap hukum internasional. HRF mendasarkan desakannya pada dugaan kejahatan perang dan genosida serta kewajiban hukum yang menurut organisasi itu melekat pada AS sebagai pihak dalam sejumlah konvensi internasional.
Tlaib juga menekankan bahwa pemerintah AS tidak seharusnya mengabaikan dugaan kejahatan hanya karena terduga pelakunya merupakan anggota militer negara sekutu Washington.
Persoalan ini menjadi semakin sensitif karena AS selama ini merupakan sekutu utama Israel dan memberikan dukungan diplomatik serta militer kepada negara tersebut. Pada saat yang sama, berbagai organisasi hak asasi manusia terus mendesak penyelidikan atas dugaan pelanggaran hukum humaniter dalam perang Gaza.
Bagi keluarga korban dan para pendukung keadilan bagi Palestina, penanganan kasus Hind Rajab bukan hanya soal mencari pihak yang bertanggung jawab atas kematian seorang anak. Kasus tersebut juga menjadi ujian apakah dugaan kejahatan terhadap warga
Ikuti Whatsapp Channel Republika