REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) tidak mengkhawatirkan penolakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap rencana Gaza. Washington menilai penolakan tersebut sebagai bagian dari kampanye politik Israel, Axios melaporkan.
"Kami memahami kebutuhan politik Bibi (Benjamin Netanyahu). Kami tidak mempermasalahkannya selama dia terus melakukan apa yang kami minta, terutama terkait pembatasan serangan di Gaza," kata pejabat Gedung Putih seperti dikutip Axios.
Baca Juga- Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Simak Peran KH Abbas Abdul Jamil pada Peristiwa 10 November
- Membaca LGBTQ+ dalam Perspektif Hukum Islam Kontemporer
- Sidik MBG, Kejagung Panggil 16 Saksi
Pada Ahad(9/8/2026), Netanyahu mengumumkan Israel menolak rencana 15 poin Dewan Perdamaian untuk Jalur Gaza. Ia menegaskan militer Israel tidak akan meninggalkan wilayah tersebut sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya.
Menurut The New York Times, pejabat Hamas meyakini Israel masih bekerja sama dengan Dewan Perdamaian terkait Gaza. Menurut pejabat tersebut, Netanyahu berbicara melalui telepon dengan utusan khusus Trump, Jared Kushner, pada pekan lalu. Netanyahu berjanji memberi kesempatan pada rencana 15 poin itu meski skeptis.
View this post on Instagram
Netanyahu juga berjanji membatasi serangan terhadap Gaza agar proses demiliterisasi dapat dimulai, menurut pejabat tersebut. Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas, dengan mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turkiye, sepakat menjalankan tahap pertama rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump.
Gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada hari berikutnya. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pasukan Israel mundur ke wilayah yang disebut "garis kuning". Meski demikian, Israel masih mempertahankan kendali atas lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza setelah penarikan tersebut.
Board of Peace (ilustrasi) - (Board of Peace Org)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara