REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membangun suasana seperti masa lalu di layar lebar bukan perkara mudah, terlebih ketika cerita yang diangkat berlangsung di negara yang berbeda. Film The Ghost and the Gun mencoba menghadirkan Malaya pada 1948 melalui lanskap dan set yang dibangun di Bali.
Film drama aksi sejarah garapan sutradara Anshul Tiwari ini mengambil latar suasana setelah Perang Dunia II. Meski cerita sejarahnya berlangsung di Malaya, seluruh proses produksi dan pengambilan gambar dilakukan di Bali, dengan melibatkan kru teknis Indonesia serta kolaborator dari sejumlah negara.
Baca Juga- Film Full AI Pertama di China ‘Gigit Jari’
- Penjualan Tiket Presale Film Dune: Part Three Kalahkan Rekor The Odyssey
- Agnez Mo Debut Film Hollywood, Adu Akting Sama Nicolas Cage
CEO sekaligus produser eksekutif Viking Sunset Studios, Mr Bo Holmgreen, mengatakan pemilihan Bali berkaitan dengan kebutuhan cerita. Sekitar 70 persen film mengambil latar hutan, sementara Bali memiliki lanskap yang sesuai untuk menghadirkan suasana tersebut.
“Kami membangun 14 set yang menggambarkan Malaysia pada 1948, semuanya berada dalam radius yang sangat dekat dari studio yang berlokasi di Tabanan, Bali. Dan memang ekosistem ini yang sangat-sangat cocok sekali dibangun untuk menggambarkan Malaysia di tahun 1948,” kata Bo dalam konferensi pers The Ghost and the Gun di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Set-set tersebut dibangun di sekitar studio Viking Sunset Studios di Tabanan, Bali. Keberadaan berbagai lokasi dalam satu kawasan membantu tim produksi menghadirkan lingkungan yang dibutuhkan untuk cerita berlatar Malaya pada masa itu. Namun, proses pengambilan gambar tetap memiliki tantangan tersendiri.
Konferensi pers film The Ghost and the Gun di Jakarta pada Jumat (23/10/2026). - (Dok. Mg168)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika