Nasional

Bappenas: Ekonomi Hijau Bisa Jadi Motor Pertumbuhan 8 Persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai ekonomi hijau dapat menjadi salah satu motor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8 persen secara berkelanjutan....

14 Agustus 2026, pukul 11:03 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai ekonomi hijau dapat menjadi salah satu motor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8 persen secara berkelanjutan. Transformasi tersebut dinilai tidak hanya berpotensi memperkuat perekonomian, tetapi juga menciptakan jutaan lapangan kerja baru.

“Melalui transformasi tersebut, Indonesia diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari lima juta lapangan kerja hijau baru pada 2029 sekaligus mentransformasi lebih dari 72 juta pekerjaan agar semakin produktif, bernilai tambah, dan berkelanjutan,” kata Rachmat dalam Bangun Bangsa Conference 2026 bertajuk Community Investment for Inclusive Green Growth, dikutip dari keterangan resmi Bappenas, Jumat (14/8/2026).

Baca Juga

Bappenas sebelumnya menyusun Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia. Dalam proyeksi tersebut, jumlah pekerjaan yang berpotensi menjadi pekerjaan hijau diperkirakan mencapai sekitar 56 juta pada 2025 dan meningkat menjadi sekitar 72 juta pada 2029. Dengan demikian, angka 72 juta tersebut bukan seluruhnya lapangan pekerjaan baru, melainkan pekerjaan yang memiliki potensi mengalami transformasi menuju karakteristik pekerjaan hijau.

Peta jalan itu menempatkan pengembangan tenaga kerja hijau sebagai bagian penting dari transformasi ekonomi Indonesia. Pekerjaan hijau tidak hanya berkaitan dengan energi terbarukan, tetapi juga mencakup sektor pertanian berkelanjutan, manufaktur hijau, pengelolaan limbah, kehutanan, transportasi, konstruksi, hingga berbagai pekerjaan yang membantu mengurangi dampak lingkungan.

Rachmat mengatakan keterlibatan dunia usaha menjadi salah satu penentu keberhasilan transformasi tersebut. Menurut dia, pembangunan ekonomi nasional tidak dapat sepenuhnya digerakkan pemerintah tanpa investasi, inovasi, dan penciptaan kesempatan kerja dari sektor swasta.

“Kalau dunia usaha memiliki kepedulian terhadap bangsa ini dan memprakarsai pembangunan bangsanya, maka ini adalah tanda bahwa kita akan tumbuh, berkembang, dan berkelanjutan. Karena itu, mari kita bersama-sama membangun bangsa,” ujar Rachmat.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak semestinya ditempatkan sebagai dua kepentingan yang saling berlawanan.

“Pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan bukanlah dua hal yang saling mengorbankan, melainkan dua pilar yang saling memperkuat,” katanya.

Ekonomi hijau, lanjut Rachmat, bukan sekadar respons Indonesia terhadap tren global. Pendekatan tersebut telah masuk dalam arsitektur pembangunan nasional, mulai dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 hingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

 

Loading... sumber : Antara
Lihat di situs asli

Berita terkait