REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melakukan perombakan mendadak di lingkaran terdekat pemerintahannya. Katie Zacharia, sekretaris pers Gedung Putih yang baru menjalankan tugas selama lima hari, diberhentikan pada Jumat (16/10/2026), setelah menghadapi kontroversi mengenai kredensial hukumnya dan kritik terhadap penampilan perdananya di hadapan wartawan.
Kepergian Zacharia menjadikannya salah satu sekretaris pers dengan masa jabatan paling singkat dalam sejarah Gedung Putih. Perempuan yang baru ditunjuk Trump pada 9 Oktober itu bahkan hanya sempat menggelar satu konferensi pers resmi sebelum kehilangan posisinya sebagai juru bicara utama presiden.
Baca Juga- Tak Jadi Hari Ini, Kewajiban Sertifikasi Halal Mundur Lagi
- Tong Biru Diduga Jadi Tempat Penyiimpanan Uang Korupsi Bupati Klaten, KPK Temukan Rp 934 Juta
- Azerbaijan Larang Jilbab, Pengamat: Belajarlah dari Indonesia
Reuters melaporkan, dua pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Zacharia telah diberhentikan dari jabatannya. Sementara itu, Fox News mengutip seorang pejabat senior pemerintah yang menyebut Zacharia sedang menjalani proses pengunduran diri dari posisi tersebut.
Keputusan itu muncul beberapa jam setelah Trump secara terbuka menyarankan Zacharia mempertimbangkan kembali pekerjaannya. Berbicara kepada wartawan di halaman selatan Gedung Putih, Trump mengatakan jabatan sekretaris pers bukan pekerjaan yang mudah dan mengakui anak buahnya menghadapi tekanan besar.
"Saya mengatakan kepadanya, kalau saya menjadi Anda, saya akan mempertimbangkannya kembali," ujar Trump, sebagaimana dilaporkan Associated Press (AP).
Trump tidak secara tegas menyatakan bahwa dirinya telah memecat Zacharia ketika berbicara kepada wartawan. Ia justru menggambarkan persoalan tersebut sebagai keputusan yang sebaiknya dipertimbangkan sendiri oleh Zacharia, meskipun laporan sejumlah media Amerika menyebut perempuan itu telah diberhentikan.
Presiden AS tersebut juga menyalahkan pemberitaan media yang dianggap memperlakukan sekretaris pers barunya secara tidak adil. Menurut Trump, Zacharia menghadapi tekanan luar biasa hanya beberapa hari setelah mulai bekerja.
Gelar Pengacara Dipersoalkan
Kontroversi terbesar yang membayangi Zacharia berkaitan dengan klaim mengenai latar belakang profesinya sebagai pengacara. Ketika mengumumkan pengangkatannya, Trump memperkenalkan Zacharia sebagai seorang pengacara, tetapi pemeriksaan media kemudian memunculkan pertanyaan mengenai izin praktik hukum yang dimilikinya.
The Washington Post dalam laporan pada 13 Oktober 2026 mengungkapkan tidak ditemukan bukti bahwa Zacharia pernah memperoleh izin untuk menjalankan praktik hukum di Amerika Serikat. Temuan tersebut memicu pertanyaan mengenai ketepatan penggunaan gelar profesional yang sebelumnya dilekatkan pada dirinya.
Zacharia diketahui menyelesaikan pendidikan hukum di Pepperdine University pada 2011. Namun, memiliki gelar sarjana hukum di Amerika Serikat tidak secara otomatis memberikan kewenangan untuk menjalankan praktik sebagai pengacara.
Di Amerika Serikat, lulusan sekolah hukum pada umumnya harus memenuhi persyaratan penerimaan profesi yang ditetapkan negara bagian, termasuk lulus ujian profesi atau bar examination, sebelum dapat menjalankan praktik hukum secara resmi.
Dalam wawancara dengan pembawa acara Sean Hannity di Fox News pada Kamis (15/10/2026), Zacharia akhirnya mengakui bahwa dirinya tidak lulus ujian profesi pengacara. Ia juga membenarkan bahwa dirinya tidak pernah mengikuti kembali ujian tersebut setelah kegagalan pertamanya.
Pengakuan tersebut semakin memperbesar sorotan terhadap kredensial profesionalnya. Sebab, Zacharia sebelumnya pernah menggambarkan dirinya memiliki pengalaman bekerja di bidang hukum, sementara status izin praktiknya tidak dapat dibuktikan.
Meski demikian, persoalan ini perlu dibedakan secara jelas. Zacharia memang memiliki latar belakang pendidikan hukum, tetapi kelulusan dari sekolah hukum tidak sama dengan kepemilikan lisensi untuk menjalankan praktik sebagai pengacara.
Kontroversi tersebut menjadi semakin sensitif karena sekretaris pers Gedung Putih merupakan pejabat yang bertanggung jawab menyampaikan informasi resmi pemerintah kepada publik. Ketepatan pernyataan, kredibilitas pribadi, dan kemampuan menghadapi pertanyaan kritis menjadi bagian penting dari jabatan tersebut.