REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Batalyon Israel yang terkait pembunuhan gadis Palestina berusia enam tahun Hind Rajab selama genosida di Gaza telah menderita kerugian besar di Lebanon selatan. Komandannya termasuk di antara empat tentara yang tewas dalam penyergapan mematikan kemarin.
Militer Israel mengumumkan pada hari Jumat bahwa Letkol Dor Ben Shimchon, komandan Batalyon 52 Brigade Lapis Baja 401, tewas bersama tiga tentara lainnya dalam insiden keamanan di dekat Kfar Tibnit di Lebanon selatan. Pihak berwenang Israel mengatakan insiden itu terjadi tak lama setelah tengah malam ketika sebuah tank Merkava milik batalion tersebut diserang oleh apa yang oleh militer digambarkan sebagai “target yang mencurigakan.”
Baca Juga- Israel-Hizbullah Umumkan Gencatan Senjata
- Menteri Ekstremis Israel Serukan Seantero Lebanon Dibakar Usai Empat Tentara IDF Tewas
- Wapres AS Jewer Israel: Kalian Selamat Karena Senjata dari Pajak Rakyat AS
Serangan Hizbullah itu yang terakhir dilancarkan sebelum gencatan senjata disepakat dengan Israel semalam. Pejuang Hizbullah menargetkan Merkava tersebut menyusul serangan brutal Israel di Lebanon Selatan yang menewaskan sekitar 20 orang.
The Palestine Chronicle melansir, tentara penjajah mengatakan masih menyelidiki apakah serangan itu dilakukan menggunakan drone yang bisa meledak atau sistem senjata lain. Media Israel menggambarkan insiden tersebut sebagai salah satu kemunduran militer paling parah di Lebanon selatan dalam beberapa bulan terakhir, dan laporan menunjukkan bahwa banyak tentara dan perwira lainnya terluka.
Batalyon ke-52 menjadi terkenal di seluruh dunia selama genosida di Gaza setelah penyelidikan atas pembunuhan Hind Rajab yang berusia enam tahun dan penghancuran ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya. Hind terjebak di dalam kendaraan di lingkungan Tel al-Hawa di Kota Gaza pada Januari 2024 setelah tembakan Israel menewaskan beberapa anggota keluarganya.
Rekaman yang dirilis kemudian memperdengarkan anak tersebut memohon bantuan selama panggilan telepon putus asa dengan petugas operator darurat sambil dikelilingi oleh jenazah kerabatnya. Ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya tidak pernah mencapai tujuannya. Dua paramedis di dalamnya juga syahid.
Ketika penyelidik akhirnya mencapai daerah tersebut, mereka menemukan Hind tewas bersama anggota keluarganya dan kru ambulans. Kasus ini memicu kemarahan internasional dan menjadi salah satu simbol genosida di Gaza yang paling dikenal luas.
Investigasi selanjutnya yang dilakukan oleh Hind Rajab Foundation, bersama dengan analis forensik, penyelidik sumber terbuka, dan organisasi media internasional, berupaya merekonstruksi peristiwa seputar pembunuhan tersebut.
Tentara Israel membawa peti mati Sersan Ohad Yaari saat upacara pemakamannya di Rehovot, Israel, 7 Juni 2026. Militer Israel mengumumkan pada 6 Juni, bahwa dua tentara tewas dalam insiden terpisah di Lebanon selatan. - (EPA/ABIR SULTAN)
Berdasarkan penyelidikan tersebut, unit dari Batalyon 52 dan Brigade Lapis Baja 401 sedang beroperasi di daerah Tel al-Hawa pada saat Hind dan keluarganya terbunuh. Perhatian khusus terfokus pada kompi di dalam Batalyon 52 yang dilaporkan dikenal dengan julukan “Vampire Empire” alias “Kekaisaran Vampir”.
Kelompok hak asasi manusia kemudian mengajukan pengaduan hukum ke Pengadilan Kriminal Internasional dengan menyebutkan nama komandan dan personel dari Batalyon 52 dan Brigade 401, dengan mengandalkan citra satelit, bukti digital, dan analisis forensik yang disajikan sebagai bagian dari penyelidikan mereka.
Bukti-bukti dan tuduhan-tuduhan tersebut menjadi inti dari upaya-upaya internasional yang sedang berlangsung untuk mencari pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan selama genosida di Gaza.
Batalyon ke-52 adalah salah satu unit lapis baja utama di Brigade Lapis Baja 401 Israel dan mengoperasikan tank Merkava 4. Batalyon tersebut memainkan peran penting dalam operasi darat Israel di Kota Gaza, kamp pengungsi Jabaliya dan Tel al-Hawa sebelum kemudian berpartisipasi dalam operasi di Lebanon selatan.
Radio militer Israel melaporkan bahwa Ben Shimchon mengambil alih komando batalion tersebut dua bulan lalu, menggantikan komandan sebelumnya yang terluka parah dalam pertempuran sebelumnya di Lebanon. Kematiannya menandai pukulan lain terhadap unit yang tetap berada di garis depan operasi militer Israel, dan kejahatan perang, di berbagai bidang.
Ikuti Whatsapp Channel Republika