REPUBLIKA.CO.ID, TEPI BARAT – Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melansir angka-angka terbaru yang menggambarkan masifnya aksi terorisme pemukim Yahudi di wilayah Tepi Barat yang dijajah. Lansiran itu mencatat lebih dari seribu kejahatan yang berpotensi jadi ledakan konflik tersebut.
OCHA mengumumkan bahwa mereka telah mendokumentasikan lebih dari 1.330 insiden yang melibatkan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki sejak awal tahun 2026. Serangan itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di pihak Palestina serta kerusakan pada properti warga Palestina.
Baca Juga- Eks Jenderal IDF: Aksi Teroris Yahudi di Tepi Barat Picu 7 Oktober yang Lebih Dahsyat
- Tepi Barat Memanggil Dunia: Seruan Presiden Palestina untuk Perlindungan Internasional
- Pemukim Yahudi Menggila, Bakar Masjid di Tepi Barat
Hal ini disampaikan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor PBB tersebut, yang menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan di seluruh wilayah Tepi Barat dalam beberapa hari terakhir.
Kantor tersebut menyatakan bahwa sejak Kamis lalu, setidaknya delapan warga Palestina, termasuk seorang anak-anak, syahid. Rumah, masjid, pepohonan, dan fasilitas pertanian telah dibakar atau dirusak—bahkan beberapa di antaranya hancur total—sementara setidaknya sepuluh keluarga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat gelombang kekerasan terbaru ini.
Organisasi hak asasi manusia Palestina, Israel, dan internasional menyatakan bahwa tentara Israel membiarkan serangan yang dilakukan oleh para pemukim, bahkan turut serta dalam serangan-serangan tersebut.
Kantor PBB tersebut mencatat bahwa pasukan Israel telah memperketat pembatasan pergerakan warga Palestina serta akses mereka ke berbagai wilayah di Tepi Barat, sehingga menghalangi ribuan orang untuk mendapatkan layanan penting, termasuk perawatan medis darurat dan akses untuk mencari nafkah.
Kerabat warga Palestina yang tewas dibunuh pemukim Israel berduka di rumah sakit Nablus di kota Nablus, Tepi Barat, pada 24 Juli 2026. - (EPA/ALAA BADARNEH )
OCHA melaporkan bahwa sejak awal tahun ini hingga Sabtu lalu, 77 warga Palestina, termasuk 18 anak-anak, syahid akibat tindakan pasukan Israel atau pemukim Israel.
Kantor tersebut menegaskan kembali seruan para pelaku kemanusiaan untuk segera memberikan perlindungan bagi warga sipil serta mematuhi hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia internasional secara ketat, sembari menekankan pentingnya meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang melakukan pelanggaran.
Serangan-serangan oleh Israel ini membuka jalan bagi aneksasi resmi Tepi Barat, yang akan menggagalkan kemungkinan pembentukan negara Palestina sebagaimana ditetapkan dalam resolusi-resolusi PBB yang relevan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika