REPUBLIKA.CO.ID, BAKU — Kebijakan pembatasan jilbab di sekolah-sekolah negeri Azerbaijan memicu protes di negara yang lebih dari 90 persen penduduknya beragama Islam. Sejumlah guru dan siswi berhijab dilaporkan dilarang masuk sekolah, termasuk Gulshan Aliyeva, seorang guru bahasa Inggris yang telah mengajar selama 23 tahun, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Bagi Gulshan Aliyeva, seorang guru, perdebatan mengenai hijab di sekolah-sekolah negeri Azerbaijan telah menjadi pergulatan pribadi yang mengancam kariernya serta pendidikan putrinya. Pekan ini, guru bahasa Inggris tersebut mendatangi sekolahnya di Baku dengan mengenakan jilbab, namun ia dilarang masuk. Putrinya pun turut dilarang masuk, ujarnya kepada Al Jazeera.
Baca Juga- Adik Kepala BNPB Ikut Jadi Tersangka Korupsi Dana Bencana, Ini Respons BNPB
- Tiga Kebiasaan yang Berisiko Bikin Kolesterol Jahat Melonjak
- Pelarangan Jilbab di Azerbaijan Picu Amarah Penasihat Erdogan
“Saya ingin menjalankan tanggung jawab saya, mendidik para siswa, dan melanjutkan karier saya tanpa menjadikan keyakinan agama sebagai penghalang dalam pekerjaan saya,” kata Aliyeva, yang telah memiliki pengalaman mengajar selama 23 tahun.
Ia menegaskan, Undang-Undang Ketenagakerjaan Azerbaijan, khususnya Pasal 16, melarang diskriminasi dalam dunia kerja di negara tersebut.
Bulan lalu, diterbitkan aturan baru yang meski tidak secara eksplisit menyebut hijab, melarang murid mengenakan pakaian yang dianggap melanggar prinsip sekularisme dalam dunia pendidikan. Aksi protes pun bermunculan terkait masalah ini di negara yang lebih dari 90 persen penduduknya beragama Islam tersebut.
Aliyeva termasuk di antara sejumlah guru dan murid yang dilarang masuk ke sekolah. Pada Senin, Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa 37 orang telah ditahan karena dianggap mengganggu ketertiban umum saat melanggar aturan baru tersebut.
Anak-anak berhijab dilarang masuk sekolah-sekolah di Azerbaijan. - (instagram)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika