JAKARTA -- Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon tengah mempersiapkan pangkalan-pangkalan militer utamanya di daratan AS agar mampu mempertahankan operasi penting selama sedikitnya 90 hari tanpa dukungan dari luar. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pertahanan baru Washington untuk menghadapi kemungkinan perang besar yang dapat melumpuhkan jaringan listrik, memutus rantai pasok persenjataan, dan mengganggu infrastruktur strategis di wilayah Amerika sendiri.
Rencana tersebut terungkap dalam dokumen inisiatif FORTRESS America yang ditinjau Fox News Digital dan dilaporkan pada Ahad (25/10/2026). Program yang diumumkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 30 September itu dirancang untuk memastikan kemampuan militer Amerika tetap beroperasi meskipun infrastruktur sipil yang selama ini menopang pangkalan militer mengalami kerusakan atau terputus akibat serangan musuh.
Baca Juga- Ngotot Serang Iran Jelang Pemilu, Netanyahu Digugat Pasal Pengkhianatan
- Menko Yusril Dorong Underinvoicing Masuk Kategori Korupsi
- Kronologi Bobotoh Tewas Dibacok Usai Tonton Laga Persib di Stadion Bogor
Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell mengatakan ketergantungan militer terhadap infrastruktur umum telah menjadi salah satu kerentanan yang tidak lagi dapat diabaikan. Menurutnya, perkembangan teknologi persenjataan dan ancaman terhadap wilayah daratan Amerika menuntut perubahan mendasar dalam perencanaan pertahanan nasional.
Parnell menegaskan Amerika tidak dapat terus mengandalkan jaringan listrik dan fasilitas sipil biasa untuk menjamin keberlangsungan operasional militernya. Ia menilai pendekatan tersebut mengandung risiko besar apabila negara menghadapi konflik berskala luas yang juga menyasar infrastruktur domestik.
Perkembangan itu mendapat perhatian baru setelah media khusus pertahanan The War Zone pada Senin (26/10/2026) mengulas target kemandirian pangkalan selama 90 hari. Laporan tersebut menyoroti meningkatnya ancaman serangan siber, sabotase, serta penggunaan pesawat nirawak yang berpotensi melumpuhkan fasilitas militer sebelum pasukan Amerika dikerahkan ke medan pertempuran.
Pengumuman rencana itu juga berlangsung ketika Washington menghadapi ketegangan berkepanjangan dengan Iran. Amerika Serikat dilaporkan memindahkan sebagian personel dari sejumlah pangkalannya di Timur Tengah, sementara pemerintah AS terus mengevaluasi kemungkinan operasi militer lanjutan apabila upaya diplomatik dengan Teheran tidak menghasilkan kesepakatan.
Pentagon Mengubah Konsep Pertahanan Wilayah Amerika
FORTRESS merupakan singkatan dari Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply, and Survivability. Program ini mengintegrasikan ketahanan infrastruktur militer, kemandirian energi, cadangan logistik, keamanan siber, serta kemampuan mempertahankan komunikasi dan operasi di tengah gangguan besar.
Dalam pidatonya di Pangkalan Korps Marinir Quantico, Virginia, pada 30 September, Hegseth menyatakan strategi pertahanan Amerika selama puluhan tahun terlalu bergantung pada asumsi bahwa wilayah daratan AS relatif aman dari serangan langsung. Keberadaan Samudra Atlantik dan Pasifik yang memisahkan Amerika dari banyak potensi lawan kini dinilai tidak lagi cukup untuk menjamin keamanan infrastruktur nasional.
Perkembangan rudal jarak jauh, teknologi siber, pesawat nirawak, dan kemampuan serangan terhadap jaringan energi telah mengubah karakter ancaman militer modern. Pentagon karena itu memandang bahwa kemampuan mempertahankan operasi di wilayah sendiri menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mengerahkan pasukan ke luar negeri.
Berdasarkan dokumen yang ditinjau Fox News, setiap instalasi militer utama di wilayah daratan Amerika Serikat ditargetkan dapat menjalankan fungsi-fungsi pentingnya secara mandiri selama setidaknya tiga bulan. Standar tersebut mencakup penyediaan listrik, air, bahan bakar, dan sistem komunikasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan kegiatan militer.
Target 90 hari itu masih merupakan standar kesiapan yang sedang dikembangkan, bukan kemampuan yang sudah dimiliki seluruh pangkalan Amerika. Pentagon juga belum mengumumkan secara terbuka biaya keseluruhan, jadwal pemenuhan target, maupun jumlah instalasi yang telah memenuhi persyaratan tersebut.
Kemandirian operasional menjadi persoalan penting karena gangguan satu sistem dapat memengaruhi keseluruhan kemampuan tempur sebuah pangkalan. Pemadaman listrik, misalnya, dapat memutus komunikasi, mengganggu pengelolaan bahan bakar, menghambat pemeliharaan pesawat, dan melemahkan pusat komando.
Reaktor Nuklir Kecil hingga Cadangan Persenjataan
Salah satu komponen utama FORTRESS adalah pengembangan sistem energi mandiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik sipil. Pentagon mempertimbangkan pemanfaatan reaktor nuklir berukuran kecil, penyimpanan energi melalui baterai berkapasitas besar, serta jaringan listrik mikro atau microgrid yang mampu beroperasi terpisah dari jaringan utama.
Melalui pendekatan tersebut, pangkalan militer diharapkan tetap mendapatkan pasokan energi ketika pembangkit listrik atau jaringan distribusi di wilayah sekitarnya mengalami gangguan. Sistem energi mandiri juga diproyeksikan dapat mendukung fasilitas komunikasi, radar, pusat komando, penyediaan air, serta peralatan strategis lainnya.
Militer Amerika sebenarnya telah mengembangkan teknologi reaktor nuklir mikro sebelum FORTRESS diumumkan. The War Zone mencatat Angkatan Darat AS bersama Defense Innovation Unit pada Agustus 2026 telah membuat kesepakatan dengan lima perusahaan untuk mendukung pembangunan lebih dari 20 reaktor mikro di berbagai pangkalan, dengan implementasi awal yang ditargetkan mulai 2028.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa FORTRESS bukan sepenuhnya program baru yang dibangun dari nol. Pentagon berupaya mempercepat dan menyatukan sejumlah proyek ketahanan energi yang sebelumnya dikembangkan secara terpisah oleh berbagai matra militer.
Di luar energi, Pentagon juga merencanakan penguatan cadangan strategis berupa amunisi, bahan bakar, mineral penting, komponen elektronik, suku cadang, dan perlengkapan medis. Besarnya cadangan akan disesuaikan dengan kebutuhan operasi serta waktu yang diperlukan industri untuk mengganti pasokan ketika jalur distribusi terputus.
FORTRESS menetapkan perlunya sedikitnya dua jalur pasokan atau produksi yang memenuhi kualifikasi untuk kebutuhan pertahanan paling penting. Strategi tersebut dimaksudkan untuk mencegah kegagalan satu pabrik, pemasok, atau jalur distribusi menghentikan produksi peralatan militer yang diperlukan dalam keadaan perang.
Pentagon juga menyiapkan skema Civil Reserve Manufacturing Network yang memungkinkan pabrik-pabrik sipil dialihkan untuk memproduksi kebutuhan pertahanan dalam situasi darurat. Melalui program tersebut, kemampuan industri, persyaratan teknis, perlindungan keamanan siber, serta mekanisme kontrak akan disiapkan sebelum krisis terjadi.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika