REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta menilai ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian ibu kota. Pengembangan sektor tersebut dinilai tidak hanya menggerakkan pelaku industri kreatif, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap berbagai sektor ekonomi lainnya.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Bambang Arianto mengatakan aktivitas ekonomi kreatif memiliki karakter yang mampu menggerakkan sektor lain di luar kegiatan utamanya. Menurut dia, penyelenggaraan sebuah konser, misalnya, tidak hanya menghasilkan transaksi dari penjualan tiket.
Baca Juga- Diingatkan Dampak Obligasi Rp 3,5 Triliun, Pramono Ingin Temui Mendagri
- Gubernur Pramono Klaim Jakarta Mampu Terbitkan Obligasi Rp 20 Triliun
- Pramono Jelaskan Alasan Terbitkan Obligasi Daerah Rp 3,5 Triliun pada 2027
"Artinya ekonomi kreatifnya ini nanti akan menjadi suatu yang bisa membuat percikan awalnya dan ikut mendampingi. Multiplier effect-nya nanti ke mana-mana," kata Bambang dalam bincang bersama media di Kantor Perwakilan BI DKI, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
Bambang menilai, penyelenggaraan konser musik yang dapat mendorong aktivitas penjualan makanan, minuman, pakaian, aksesori, hingga berbagai kebutuhan lain yang berkaitan dengan acara tersebut. Dengan demikian, satu kegiatan ekonomi kreatif dapat menciptakan transaksi di banyak sektor sekaligus.
Menurut dia, perkembangan ekonomi kreatif juga tidak serta-merta membuat tenaga kerja bergeser ke sektor informal. Sejumlah subsektor justru dapat berkembang menjadi kegiatan usaha formal dengan badan usaha, perizinan, serta kewajiban perpajakan.
Bambang mencontohkan, penyelenggara event yang membutuhkan perusahaan formal agar dipercaya mengelola kegiatan berskala besar. Hal serupa dapat terjadi pada kreator konten yang semakin berkembang dan kemudian masuk ke sektor formal.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika