Nasional

BI: Kenaikan Harga Pertamax Berpotensi Tambah Inflasi 0,25 Persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax RON 92 akan memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi nasional pada 2026. BI menghitung...

18 Juni 2026, pukul 12:57 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax RON 92 akan memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi nasional pada 2026. BI menghitung kenaikan harga Pertamax berpotensi menyumbang sekitar 0,25 persen terhadap inflasi.

Harga Pertamax diketahui naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni 2026.

Baca Juga

"Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi," ujar Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juni 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (18/6/2026).

Menurut Aida, tekanan inflasi masih menjadi perhatian di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada harga energi domestik.

"Rambatan global langsung terlihat pada administered prices atau harga-harga yang ditentukan pemerintah. Ada harga BBM nonsubsidi yang naik seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, tetapi ada juga yang turun seperti Dexlite dan Pertamax Dex. Pergerakan ini akan mengikuti perkembangan harga energi global," katanya.

Selain dari sektor energi, BI juga mencermati risiko inflasi yang berasal dari komoditas impor (imported inflation) dan kelompok pangan bergejolak (volatile food). Namun, menurut Aida, dampak kenaikan harga pupuk terhadap inflasi masih relatif terbatas karena kapasitas produksi pupuk dalam negeri masih mencukupi kebutuhan nasional.

"Ada faktor harga pupuk, tetapi kontribusinya terhadap inflasi masih sangat minimal karena produksi dalam negeri masih cukup," ujarnya.

 

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait