Nasional

BNPB: Korban Jiwa Gempa NTT Jadi 71 Jiwa, 59.647 Orang Mengungsi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat penambahan korban jiwa akibat bencana gempa bumi yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026). Berdasarkan data...

19 Agustus 2026, pukul 10:52 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat penambahan korban jiwa akibat bencana gempa bumi yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026). Berdasarkan data terkini, total ada 71 orang meninggal dunia akibat bencanatersebut. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan berdasarkan data hingga Rabu (19/8/2026), total terdapat 71 orang meninggal dunia. Jumlah korban meninggal dunia itu mengalami penambahan dibandingkan data sebelumnya. "Jumlah korban bertambah satu orang menjadi 71, yaitu di Kabupaten Nagekeo," kata dia saat konferensi pers secara daring, Rabu sore.

Ia menambahkan, pihaknya masih terus folus melakukan penanganan terhadap para pengungsi akibat bencana tersebut. Pasalnya, hingga saat ini terdapat lebih dari 50 ribu jiwa warga yang mengungsi.

Menurut dia, banyaknya warga yang masih mengungsi itu disebabkan ketakutan mereka kembali ke rumah masing-masing. Pasalnya, terdapat banyak bangunan rusak akibat gempa bumi tersebut. Di sisi lain, gempa bumi susulan masih terus terjadi hingga hari ini. 

"Tadi berdasarkan pemutakhiran data yang sudah disampaikan oleh Bu Deputi dari BMKG, jadi ini menimbulkan jumlah total pengungsi yang banyak saat ini, menurut catatan kami sebanyak 59.647 orang, dan yang terbanyak ini ada di Manggarai sebanyak sekitar 20 ribu orang," kata dia.

Berton mengatakan, pemerintah terus berupaya untuk menyalurkan kebutuhan logistik kepada warga terdampak bencana di NTT. Hingga Selasa (18/8/2026), sudah dilakukan penyaluran logistik sebanyak 165 ton melalui jalur udara. Menurut dia, total barang bantuan yang terkirim sejak Sabtu hingga Selasa mencapai 398 ton.

Warga berjalan di dekat bangunan Masjid Al-Istiqomah Ronting yang rusak akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. - (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Menurut dia, pengiriman melalui jalur darat menjadi salah satu prioritas penanganan di lapangan untuk mendistribusikan logistik. Namun, penyaluran logistik itu tidak bisa dilakukan secara cepat lantaran kondisi geografis dan kerusakan sejumlah ruas jalan di Flores. 

Karena itu, pemerintah juga melakukan optimasi bagaimana transportasi laut digunakan untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan dukungan logistik dalam jumlah yang besar. "Pada tanggal 18 Agustus, KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reo di Kabupaten Manggarai, membawa paket bantuan sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, dan seluruh bantuan yang berasal dari masyarakat. Dukungan ini selanjutnya didistribusikan ke Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur," kata dia.

Ia menyebutkan, salah satu kendala pendistribusian logistik itu adalah banyaknya warga yang mengungsi secara mandiri. Alhasil, tim di lapangan kesulitan menyebarkan bantuan dalam waktu yang tepat.

"Selain itu, akses ke desa-desa tidak mudah dan perlu waktu untuk menjangkau karena memang kondisi yang labil dari kondisi jalan maupun kecilnya jalan tersebut," ujar Berton.  

Lihat di situs asli

Berita terkait