REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, tidak saling menyalahkan terkait dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Pasalnya, karhutla tidak mengenal batas negara.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan, peristiwa karhutla tidak selalu dibatasi dengan administrasi maupun batas negara. Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif.
Baca Juga- BMKG: 696 Titik Panas Karhutla Muncul di Kalsel pada Ahad
- Penanganan Kebakaran Saat Kemarau di KBB Kian Sulit karena Minim Armada dan Sumber Air Menyusut
- Kabut Asap Pekat Selimuti Palembang, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya
"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," kata dia, Ahad (23/8/2026).
Berton memahami adanya kekhawatiran sejumlah negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap dari karhutla yang terjadi di Kalimantan. Karena itu, pemerintah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla tersebut.
"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," kata dia.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika