REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hubungan yang hangat dan responsif antara orang tua dan bayi sejak dini dinilai terbukti ampuh meminimalisasi risiko gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) pada anak. Berdasarkan studi dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, pola asuh yang penuh kasih dan sabar mampu meredam dampak risiko ADHD yang dipicu oleh paparan peradangan selama masa kehamilan seperti akibat infeksi, diabetes, stres, hingga paparan polusi dan asap rokok pada ibu hamil.
Anak-anak dapat memiliki risiko ADHD yang lebih tinggi jika mereka terpapar peradangan selama masa kehamilan. Peradangan itu dapat disebabkan oleh faktor kesehatan ibu seperti infeksi, diabetes, stres, hingga paparan polusi atau asap rokok.
Baca Juga- Masih Anggap Game Cuma Hiburan? Mahasiswa UNM Bantu Anak ADHD Lewat Inovasi MEMORion+
- Pemanasan Global Tingkatkan Risiko Gangguan Mental pada Anak
- Saat Keluarga Jadi Pelaku, Ini Dampak Kekerasan Seksual pada Anak
"Kita tahu bahwa genetika berperan dalam ADHD, namun penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan di masa awal kehidupan juga merupakan faktor penting," kata peneliti senior Hanna Gustafsson, seorang profesor madya psikiatri di Oregon Health & Science University (OHSU) di Portland, dilansir laman US News, Rabu (19/8/2026).
Menurut Gustafsson, perkembangan otak janin dan risiko ADHD dipengaruhi oleh lingkungan selama kehamilan. Meski demikian, perkembangan otak tidak berhenti ketika anak dilahirkan.
"Perkembangan otak tidak berhenti saat anak lahir. Proses ini terus berlanjut sepanjang hidup dan dapat dibentuk oleh pengalaman anak, hubungan keluarga, serta lingkungan masyarakat di mana mereka tumbuh," kata Gustafsson.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengikuti lebih dari 300 perempuan hamil beserta anak-anak mereka. Tingkat peradangan pada ibu diukur melalui sampel darah yang diambil pada trimester kedua kehamilan.
Setelah anak lahir, para peneliti mengamati interaksi antara ibu dan anak ketika anak berusia 6 bulan. Gejala ADHD pada anak kemudian dinilai ketika mereka berusia 3 tahun.
Anak perempuan dengan diagnosis ADHD (ilustrasi). - (Dok. Freepik)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika