REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Akademisi internasional bidang kajian Baitul Maqdis, Prof Abdul Fattah el-Awaisi menilai Indonesia memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis untuk memimpin persiapan berbasis ilmu pengetahuan dalam upaya pembebasan Masjid Al-Aqsa. Menurut dia, perjuangan tersebut tidak dimulai dengan kekuatan militer, melainkan lewat pembangunan ilmu, cara berpikir, dan perencanaan strategis.
Menurut el-Awaisi, Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa perubahan besar selalu diawali dengan ilmu. Ia merujuk pada wahyu pertama yang memerintahkan membaca sebagai fondasi membangun peradaban.
Baca Juga- Rizky Ridho Ajak Skuad Timnas Indonesia Fokus Jalankan Rencana Herdman Saat Hadapi Vietnam
- Mal dan Perkantoran Dipagari Tinggi, Pramono: Jangan Berlebihan, Jakarta Aman
- Kejari Periksa Dirut Perumdam Indramayu Sebagai Saksi Soal Dugaan Mark Up Anggaran Rp39 Miliar
"Rasulullah tidak memulai dengan militer. Beliau memulai dengan membaca dan membangun ilmu," ujar el-Awaisi dalam acara "Baitul Maqdis The Blueprint" yang digelar International Networking for Humanitarian (INH) di Auditorium RRI, Jakarta, Ahad(2/8/2026).
Ia mengatakan, negara-negara kolonial justru menerapkan prinsip tersebut ketika hendak menjajah berbagai wilayah, termasuk Palestina dan Indonesia. Sebelum mengirim pasukan, kata dia, mereka lebih dahulu melakukan riset, mengumpulkan pengetahuan, dan menyusun strategi jangka panjang."Sayangnya, penjajah mengikuti sunnatullah dengan mempersiapkan ilmu terlebih dahulu, sementara umat Islam sering kali justru mengabaikannya,”kata dia.
Karena itu, ia mengajak umat Islam melakukan apa yang disebutnya sebagai liberation of mind atau pembebasan cara berpikir. Menurut dia, dukungan terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada solidaritas emosional, tetapi harus dibangun di atas pemahaman sejarah, geopolitik, dan kajian ilmiah yang kuat.
Masjid Al Aqsa - (Wikipedia)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika