Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
Luar biasa. Kali ini kritik terhadap pemerintahan Prabowo datang dari seorang ulama senior, Buya Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum MUI.
Ia menyebut keputusan para pembantu presiden yang memberi jalan bagi konser Andrea Bocelli sebagai bentuk "pembusukan" terhadap nama baik Prabowo sendiri.
Tulisan Buya Anwar yang dimuat di media online belum lama ini patut mendapat perhatian serius. Ia melihat paradoks dalam pemerintahan: Prabowo ingin menegakkan konstitusi, tetapi pembantunya justru mengambil keputusan yang dinilai bertentangan dengan jiwa konstitusi.
Persoalannya memang jauh melampaui urusan musik. Ini menyangkut konsistensi sikap negara terhadap penjajahan, terutama ketika Indonesia selama ini berdiri di belakang perjuangan kemerdekaan Palestina.
Ulama sudah mengingatkan, pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Prinsip itu menjadi bagian penting dari identitas politik bangsa Indonesia.
MUI sudah menyampaikan penolakan resmi terhadap konser Andrea Bocelli. Mereka menyoroti keterlibatan penyanyi tenor Italia itu dalam acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces di Los Angeles pada 2010 serta penampilannya di Tel Aviv pada 2022.
Kita tidak membenci musik. Kita juga tidak mempersoalkan konser musisi asing hanya karena mereka datang dari negara tertentu. Namun, ketika seorang tokoh seni diduga ikut mendukung penggalangan dana bagi militer Israel, persoalannya memasuki wilayah moral dan politik kemanusiaan.
MUI sudah mengingatkan pemerintah. Bahkan Kementerian Agama menyatakan dukungan terhadap sikap MUI, sementara Kementerian Pariwisata sebelumnya menyampaikan komitmen untuk menghormati keputusan lembaga ulama tersebut.
Lantas, mengapa persoalan ini masih menimbulkan kegaduhan? Di sinilah kritik Buya Anwar menjadi relevan: jangan sampai orang-orang di sekitar presiden justru merusak kepercayaan publik terhadap pemimpinnya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika