Nasional

Cerita Bekas Pecandu yang Terlahir Kembali di Ruang ICU

Tio dulunya anak berprestasi di kelas dan periang. Memasuki kuliah, segalanya berantakan. Ia jadi pecandu sabu. Ada trauma terpendam yang meledak dalam dirinya.

28 Juni 2026, pukul 07:20 WIB · dibaca 0 kali

Nasional Hukum Kriminal Cerita Bekas Pecandu yang Terlahir Kembali di Ruang ICU Thohirin | CNN Indonesia Minggu, 28 Jun 2026 14:20 WIB Bagikan: url telah tercopy 1. Cerita Bekas Pecandu yang Terlahir Kembali di Ruang ICU 2. Bangkit dari Mati Suri Tio sampai harus berpindah empat kampus karena kuliahnya berantakan gara-gara narkoba. iStock/CandyRetriever Jakarta, CNN Indonesia --

Jalur flyover Tanjung Barat, Jakarta Selatan, pada malam Ramadan 2025 ibarat jalanan menuju gerbang ajal bagi Tio (33).

Sebuah mobil MPV menyalip tajam dari sisi kanan sepeda motor Tio. Lewat kaca spion, ia sekelebat melihat siluet anak perempuan bersandar di jendela yang terbuka sebelum mobil itu menghantamnya.

Gubrak! Dunia pun seketika gelap gulita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembuluh darah di otaknya pecah. Di ruang ICU, tubuh Tio terkapar tak berdaya melewati tiga hari masa koma yang kritis.

Dokter memperingatkan Maria (63), sang ibu, bahwa jika pun selamat, Tio tidak akan pernah kembali ke kondisi semula.

Di luar ruangan, Angga (33), sahabat karibnya, dirundung pesimisme hebat; ia yakin betul akan kehilangan Tio untuk selamanya.

Namun takdir masih menyisakan skenario lain. Kecelakaan mengerikan itu justru menjadi hantaman keras yang menekan tombol factory reset atas seluruh hidup kelam Tio yang berjalan belasan tahun ke belakang.

Awalnya coba-coba

Jauh sebelum petaka di flyover itu terjadi, Tio adalah sosok yang sempurna di mata Angga. Mereka adalah sahabat masa kecil yang tumbuh bersama sejak sekolah dasar hingga lulus dari SMP dan SMA swasta Katolik bergengsi di Jakarta Selatan.

Tio adalah anak yang periang, pintar di kelas, memiliki jiwa seni melukis yang tinggi, dan jago bermain sepak bola. Di kelas, ia bahkan menjadi sosok yang dicemburui Angga karena selalu menonjol.

Tio tumbuh sebagai anak tunggal yang dibesarkan orang tua tunggal. Ayahnya pergi usai bercerai saat Tio berusia tiga tahun.

Tio kerap berpindah-pindah tempat tinggal di Jakarta bersama ibunya. Selepas SMA, ia merantau ke Bandung untuk kuliah hukum. Di sanalah, rasa kesepian sebagai anak tunggal mulai menggerogotinya.

"Aku ingin menjadi orang yang bebas aja waktu itu. Karena aku sendiri kan," kenang Tio saat ditemui CNNIndonesia.com di Jakarta, Kamis (18/6).

Lihat Juga :HARI ANTINARKOTIKA DUNIAAncaman Narkoba Baru di Indonesia: Pod Getar hingga Gas Tawa Mematikan

Untuk mengusir sepi, ia mulai mengenal dan coba-coba menghisap ganja, hingga rutin menjadi kebiasaan.

Tio hanya bertahan setahun di Bandung. Kuliahnya berantakan. Ia lantas dipaksa ibunya pindah kuliah ke Jakarta dan mengambil jurusan musik di sebuah kampus swasta elite di Tangerang.

Alih-alih membaik, atmosfer baru ini justru membuka gerbang kenakalan yang lebih dalam.

Dari ganja, Tio mulai bersentuhan dengan obat-obatan psikotropika Golongan IV seperti Dumolid dan Calmlet, hingga akhirnya mencicipi sabu. Tio bersama teman-teman kampusnya kerap memakai obat-obatan itu di dalam mobil di parkiran kampus.

Intensitasnya mengganas dari dua tablet menjadi enam tablet sehari. Kebiasaan ini menghancurkan perkuliahannya; selama empat semester berturut-turut, IPK Tio bertengger di angka nol koma nol.

Surat teguran dan panggilan orang tua dari kampus selalu ia robek. "Yang penting aku aman, dapat terus [uang saku]," akunya.

Hingga pada suatu hari di tahun 2013, sebuah telepon dari rumah sakit di Tangerang berdering di ponsel Maria, yang saat itu baru saja menjalani operasi kanker payudara stadium dua.

Pihak rumah sakit mengabari bahwa Tio kecelakaan menggunakan Vespa pinjaman rekannya. Tapi, bukan hanya kabar itu yang bikin Maria terkesiap. Pihak rumah sakit juga mengabari bahwa Tio positif narkoba.

Belum kering air mata Maria, pihak kampus menelepon memberitahu Maria hendak mengeluarkan Tio. Sambil menahan sakit kankernya, Maria merajuk dan memohon kepada pihak kampus hingga mereka iba dan memberikan kesempatan kedua.

Namun, Tio tak lagi bisa dikontrol. Perangainya berubah drastis menjadi sangat emosional. Angga bahkan pernah menyaksikan langsung suatu malam ketika situasi di rumah Tio memanas tanpa sebab yang jelas.

"Berantemnya sampai ancam untuk bunuh [ibunya]. Ya marah lah, yang gue enggak tahu sebabnya apa," kata Angga.

Saat Maria mencoba menegur perubahan sikap itu, Tio justru menyerang balik dan menyalahkan perceraian ibunya sebagai alasan mengapa dirinya tidak punya figur bapak.

"'Berarti kebohongan dong Mah. Dia bilang, kok sayang'," ujar Maria menirukan jeritan hati anaknya kala itu.

Sang mantan suami memang pernah berjanji sayang pada Tio sebelum pergi demi mencalonkan diri sebagai kepala desa di Medan, sebuah janji palsu tanpa tanggung jawab yang merusak kepribadian Tio.

Tahun 2014, Tio pindah lagi ke kampus ketiga, sebuah kampus seni bergengsi di Jakarta untuk jurusan perfilman. Bukannya insaf, ia justru kian jatuh ke lubang ketergantungan yang akut.

Tio terisolasi dari kehidupan sosial, mengurung diri di kamar kos, dan menghabiskan Rp700 ribu dari total Rp1 juta uang jajan mingguannya hanya untuk membeli sabu.

"Kalau tidak mengonsumsi itu, di kamar ngelamun. Padahal harus kuliah. Hilang arah. Aku enggak kenal aku," lirih Tio.

Dampaknya terlihat nyata pada awal 2016. Dalam sebuah pertemuan di kafe kawasan Jakarta Selatan, Angga melihat sahabat kecilnya itu sudah hancur total.

Tio hanya duduk dengan tatapan kosong, mengigau tanpa makna, sementara air liurnya menetes di ujung bibir yang diusap perlahan oleh Maria.

"Gue merasa bahwa, oh gue akan kehilangan sahabat lama gue. Hampir enggak ada kata-kata yang gue pahami," kata Angga pilu.

Menghadapi jalan hidup yang hancur dan mulai dijauhi keluarga besar yang malu, Maria berjalan sendirian menyeret Tio keluar masuk panti rehabilitasi hingga tiga kali.

Tahun 2018 menjadi ikhtiar terakhir mereka saat Tio dimasukkan ke panti rehab terkenal di kawasan Puncak, Cianjur.

Di sana, Tio dijebloskan ke sel jeruji besi berukuran 2x2 meter untuk proses detoksifikasi. Seminggu penuh, hidup Tio hanya diisi tidur, makan, dan marah-marah dengan emosi yang kacau.

Namun, di bulan kesembilan, Tio kabur karena tak betah. Maria akhirnya pasrah merawat proses pemulihan Tio di rumah dengan kondisi keuangan yang compang-camping.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Kisah kelam yang menjerat Tio bukanlah anomali tunggal, melainkan cerminan dari darurat narkotika yang kian mengganas di Indonesia.

Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat angka penyalahgunaan narkotika di Indonesia saat ini telah menembus angka 4,9 juta orang.

Mirisnya, jeratan candu ini didominasi oleh generasi muda di usia produktif, khususnya pada rentang usia 15 hingga 24 tahun-usia di mana Tio pertama kali menenggelamkan masa depannya ke dalam lintingan ganja dan tablet psikotropika.

Tren penyalahgunaan di kalangan pelajar dan remaja belakangan pun kian mengkhawatirkan, dengan media baru seperti rokok elektrik yang disalahgunakan untuk menyebarkan zat psikoaktif jenis baru (NPS) secara senyap.

Sabu dan psikotropika seperti Dumolid serta Calmlet yang dikonsumsi Tio bekerja dengan cara yang destruktif pada sistem saraf pusat.

Kementerian Kesehatan telah merilis bahwa zat-zat ini memaksa otak melepaskan hormon dopamin secara drastis untuk memicu euforia instan, namun efek jangka panjangnya merusak struktur kognitif, mengacaukan regulasi emosi, hingga memicu psikosis-kondisi hilangnya arah dan identitas diri. Kerusakan otak ini sering kali permanen.

Lihat Juga :HARI ANTINARKOTIKA DUNIAJejak Aparat di Pusaran Bisnis Narkoba

Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta mencatat bahwa komplikasi fisik dan mental akut akibat overdosis atau putus zat menjadi faktor utama yang merusak fokus, konsistensi, dan disiplin hidup para korban.

Ketika zat kimia tersebut telah merusak mental, benteng pertahanan terakhir yang tersisa hanyalah rehabilitasi.

Namun, memutus rantai candu secara total di Indonesia bagaikan berjalan di atas duri.

Laporan akhir tahun BNN Provinsi DKI Jakarta mencatat lonjakan jumlah pengguna yang direhabilitasi sepanjang tahun 2025 menjadi 8.865 orang, naik tajam sebanyak 24,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 6.718 orang.

Sayangnya, tingginya angka rehabilitasi ini tidak berjalan beriringan dengan tingkat kesembuhan mutlak.

Kemenkes dan RSKO kerap menggarisbawahi tingginya angka relapse (kambuh kembali) pada mantan pecandu akibat minimnya sistem pendukung lingkungan, stigma sosial, serta keterbatasan kapasitas pemulihan panti rehab itu sendiri.

Perjuangan sunyi para ibu tunggal seperti Maria, yang terseok-seok mengantar anaknya keluar masuk panti tanpa dukungan keluarga besar yang telanjur menjauh, menjadi potret nyata dari betapa mahalnya harga sebuah kepulihan dari jerat candu mematikan.


Terlahir kembali

Selepas kecelakaan di flyover Tanjung Barat itu, ketika Tio berhasil melewati masa komanya, Angga datang menjenguk dengan membawa uang donasi Rp20 juta yang digalang dari orang-orang yang ternyata masih peduli.

Di bangsal rumah sakit, keduanya saling beradu pandang. Tio tampak mengerutkan dahi, berpikir luar biasa keras mencoba mengingat pria di depannya, hingga air matanya tumpah.

"Dia kayak tahu rasanya. Tapi enggak bisa nginget siapa. Tapi rasanya ada," kenang Angga emosional.

Hantaman di kepala Tio rupanya telah menghapus seluruh trauma, dendam, dan perangai buruknya. Tio terbangun sebagai manusia yang sepenuhnya baru. Ia tak lagi memanggil Angga dengan nama panggilan masa kecil mereka.

"Manggilnya aku-kamu. Dari situ gue menilai bahwa oh ini akan di-restart. Tapi bahwa dia selamat itu jadi mukjizat besar," kata Angga.

Maria pun merasakan mukjizat yang sama di rumah. Putranya yang dulu liar kini berbicara dengan intonasi yang begitu santun.

Bahkan, ada batasan sopan santun baru; Maria kini harus mengetuk pintu kamar terlebih dahulu hanya untuk sekadar menyapa anak kandungnya sendiri.

Kini, Tio menghabiskan 24 jam waktunya bersama sang ibu, sesekali membantunya bekerja menjual properti. Ia juga telah menghapus seluruh kontak lama di ponselnya, dan hanya menyisakan nomor Angga.

Sisa-sisa kerusakan zat kimia itu masih membekas di tubuh Tio. Bibir, gusi, dan giginya tampak cokelat kehitaman, bahkan geraham kiri atasnya sudah tanggal akibat zat kimia yang dikonsumsinya.

Namun seluruh masa lalunya yang hitam telah terkunci rapat di balik dinding koma. Tio melihat masa lalunya sebagai sebuah kebodohan dari orang asing yang tidak ia kenal lagi.

Bagi Maria, kehilangan sosok Tio yang lama di dalam ruang koma adalah berkah terbesar dalam hidupnya.

"Sehancur-hancur saya, saya enggak akan mau balik lagi ke sana. Karena dia enggak kenal dirinya siapa," tutup Maria dengan keteguhan seorang ibu.

Add as a preferred
source on Google
Bangkit dari Mati Suri BACA HALAMAN BERIKUTNYA HALAMAN: 1 2 Bagikan: url telah tercopy
Lihat di situs asli

Berita terkait