Nasional

Cerita Founder Taza Berburu Kain Berserat Alami Hingga ke Rusia dan Jepang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membangun jenama fesyen tidak selalu mudah. Bagi Founder sekaligus Creative Director Taza Ashila Ramadhani salah satu tantangan terbesarnya justru menemukan bahan pakaian yang nyaman menggunakan kain yang...

18 Oktober 2026, pukul 04:59 WIB · dibaca 2 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membangun jenama fesyen tidak selalu mudah. Bagi Founder sekaligus Creative Director Taza Ashila Ramadhani salah satu tantangan terbesarnya justru menemukan bahan pakaian yang nyaman menggunakan kain yang lebih ramah lingkungan karena berbasis serat alami.

Ashila mengawali perjalanan Taza dari kebutuhan pribadi. Saat mulai mengenakan busana syar'i, dia kesulitan menemukan pakaian dengan bahan natural yang nyaman digunakan sehari-hari.

Baca Juga

Saat itu, menurut dia, sebagian besar busana yang tersedia di pasaran menggunakan bahan polyester. Material tersebut kurang sesuai dengan kebutuhannya karena memiliki masalah keringat berlebih. Adiknya juga memiliki kulit sensitif sehingga membutuhkan bahan pakaian yang lebih nyaman.

"Sebenarnya keresahannya bukan secara spesifik terhadap lingkungan, tetapi lebih kepada diri sendiri yang mencari apa yang nyaman buat aku," kata Ashila.

Dia terbiasa mengenakan kemeja berbahan linen atau katun. Namun, ketika mencari busana syar'i, pilihan bahan natural yang sesuai dengan kebutuhannya masih terbatas.

Ashila kemudian mencari inspirasi melalui Pinterest dan media sosial. Dari sana, dia menemukan referensi busana perempuan dari Rusia, Asia Timur, Asia Barat, hingga negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan dan Kyrgyzstan.

Gaya busana dari kawasan tersebut menarik perhatiannya karena menawarkan siluet longgar atau oversized, model one set, serta penggunaan bahan natural. Tampilannya dinilai lebih muda dan modern tanpa harus selalu identik dengan gamis konvensional.

Dari proses pencarian inspirasi itu, Ashila mulai menelusuri jenis bahan dan pemasok yang sesuai dengan konsep yang ingin dibangun. Salah satu material yang menarik perhatiannya adalah cupro. Bahan tersebut memiliki tampilan menyerupai sutra, tetapi terasa ringan dan nyaman digunakan.

Untuk mengenali material tersebut, Ashila bahkan harus berkomunikasi dengan sejumlah penjual dari Rusia menggunakan Google Translate. Komunikasi dalam bahasa Inggris tidak mendapatkan respons, sementara pesan berbahasa Rusia justru dibalas.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait