Nasional

Dalam 1,5 Bulan, Lebih dari 174 Hektare Lahan Perhutani di Jateng Terdampak Karhutla

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengungkapkan, lebih dari 174 hektare lahan Perhutani di Jateng telah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Angka...

28 Agustus 2026, pukul 07:25 WIB · dibaca 2 kali

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengungkapkan, lebih dari 174 hektare lahan Perhutani di Jateng telah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Angka tersebut diprediksi masih akan meningkat mengingat musim kemarau belum berakhir.

“Data hingga 24 Agustus 2026, ada 174,25 hektare yang terlaporkan. Ini kawasan hutan Perhutani,” ungkap Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup dan Perlindungan Hutan DLHK Jateng, Soegiharto, ketika ditanya soal isu karhutla di Jateng, Jumat (28/8/2026). 

Baca Juga

Dia mengatakan, selama 1,5 bulan terakhir, DLHK Jateng mencatat 154 kejadian karhutla. Lahan seluas 174 hektare milik Perhutani termasuk lahan yang terdampak akibat karhutla selama 1,5 bulan terkakhir. “Karena ini El Nino, meningkatnya itu lumayan besar memang,” ujarnya. 

Menurut Soegiharto, sebelum memasuki musim kemarau, DLHK Jateng dan para pemangku kepentingan lainnya sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi terjadinya karhutla. Hal itu termasuk mengingatkan masyarakat agar tak sembarangan melakukan pembakaran. 

Dia menjelaskan, rata-rata karhutla yang terjadi di Jateng berasal dari pembukaan lahan tebu. Sebagian lahan tebu juga berada di kawasan hutan. “Karhutla paling banyak memang di lahan-lahan tebu, hutan produksi yang (pohon) jati itu biasanya, yang bawah itu, dibakar. Itu lumayan banyak,” ucapnya. 

Soegiharto secara khusus menyoroti praktik pembakaran di lahan perkebunan tebu yang kemudian menyambar ke area lainnya. “Rata-rata misalkan mau menanam tebu, kan dibabat dulu (lahannya), terus dibakar. Kemudian akhirnya nyambar,” kata dia. 

Menurut Soegiharto, kejadian kebakaran di lahan perkebunan tebu terjadi hampir merata di berbagai daerah se-Jateng. “Mulai dari Blora, kemudian yang laporan banyak itu di Klaten, di hutan rakyatnya juga ada. Grobogan, Sragen, Wonogiri juga banyak,” ucapnya. 

Kendati demikian, Soegiharto mengakui, lahan yang paling terdampak karhutla di Jateng berada di kawasan Perhutani. “Yang paling banyak untuk kebakaran lahannya ada di hutan negara memang. Ya tapi di lahan masyarakat juga ada,” ungkapnya. 

Namun Soegiharto mengaku masih menghitung kerugian materiel akibat karhutla, termasuk di lahan Perhutani. Dia meyakini, selain di lahan perkebunan tebu, tak ada faktor kesengajaan di balik terjadinya karhutla di Jateng. “Mungkin mereka (warga) ada yang enggak sengaja, misalnya membakar di bagian pinggir, terus ditinggal, lupa, lalu terbakar, terus (menyambar) ke mana-mana. Apalagi kalau sekarang itu api sedikit saja sudah bisa menyulut cukup banyak,” kata Soegiharto.

“Jadi kalau disengaja sih tidak. Tapi kalau yang kayak di (lahan) tebu, itu biasanya mereka setelah dikumpulkan memang dibakar, lalu itu terbaca di satelit, muncul hotspot,” tambah Soegiharto.

Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng mengungkapkan, sejak Januari hingga 23 Agustus 2026, pihaknya sudah mencatatkan 232 karhutla di Jateng. Jika data tersebut diselaraskan dengan DLHK Jateng, artinya 66 persen dari karhutla di Jateng terjadi selama 1,5 bulan terakhir. 

Menurut BPBD Jateng, jumlah kejadian karhutla pada periode Januari-Agustus 2026 jauh lebih tinggi dinandingkan periode yang sama tahun lalu. Persentase kenaikannya mencapai sekitar 700 persen. Tren karhutla pada 2026 meningkat bertepatan dengan masuknya musim kemarau, yakni bulan Juni, Juli, dan Agustus.

Secara rinci, 232 kejadian karhutla yang tercatat BPBD Jateng tersebar di 35 kabupaten/kota. Luas lahan terbakar akibat karhutla mencapai 194 hektare dan luas hutan 213 hektare. Ada pula kebakaran yang terjadi di kawasan tempat pemrosesan akhir (TPA), yakni seluas 2,17 hektare. Perkirakan kerugian materiel mencapai Rp23 miliar.

"Kebakaran lahan didominasi kebakaran lahan pertanian khususnya tebu dan semak belukar. Penyebabnya diduga karena human error, untuk lahan tebu biasanya untuk membersihkan selasar tebu saat panen," kata Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan.

Sepuluh daerah di Jateng dengan total kejadian karhutla tertinggi meliputi Kabupaten Klaten (31 kejadian), Sragen (30 kejadian), Sukoharjo (18 kejadian), Wonogiri (17 kejadian), Boyolali (16 kejadian), Blora (14 kejadian), Kabupaten Semarang (13 kejadian), Banyumas (10 kejadian), Kudus (10 kejadian), dan Kota Tegal (8 kejadian).

Lihat di situs asli

Berita terkait