Nasional

Dari Irak ke Iran, Mengapa Amerika Mengulangi Kesalahan Perang Panjang?

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Dalam percaturan politik internasional, tidak ada yang tampak lebih menggoda sekaligus lebih menyakitkan daripada fatamorgana strategis yang terus dikejar negara-negara adi daya yaitu ilusi bahwa mereka memiliki kendali...

14 Agustus 2026, pukul 00:27 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Dalam percaturan politik internasional, tidak ada yang tampak lebih menggoda sekaligus lebih menyakitkan daripada fatamorgana strategis yang terus dikejar negara-negara adi daya yaitu ilusi bahwa mereka memiliki kendali mutlak dan mampu menyelesaikan konflik bersejarah hanya dengan sekali tekan tombol atau serangan kilat.

Dalam perang yang sedang berlangsung melawan Iran, persoalannya bukan hanya biaya konfrontasi militer atau gejolak pasar energi.

Baca Juga

Ada pertanyaan yang jauh lebih besar menyangkut masa depan kekuatan Amerika Serikat yakni apakah Amerika telah kehilangan kemampuan untuk menahan daya tarik perang, bahkan ketika sejak awal mereka telah mengetahui risikonya?

Itulah pertanyaan utama yang diajukan Emma Ashford, peneliti senior dalam program Reimagining US Grand Strategy di Stimson Center, dalam analisisnya yang dimuat majalah Foreign Affairs dengan judul “America’s Fatal Attraction to War”, yang dikutip Aljazeera, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu, koresponden urusan luar negeri Politico, Nahal Toosi, dalam analisisnya menilai bahwa Washington telah terperosok ke dalam rawa baru yang mengingatkan pada keterlibatannya di Irak—tetapi kali ini dalam lingkungan internasional yang jauh lebih berbahaya.

Dalam artikelnya, Ashford melihat sebuah ironi besar. Donald Trump kembali ke Gedung Putih dengan menjadikan dirinya sebagai presiden yang akan mengakhiri “perang-perang tanpa akhir”.

Bahkan, tahun pertama masa jabatan keduanya sempat memberikan tanda-tanda bahwa kebijakan luar negeri Amerika benar-benar akan mengalami perubahan.

Trump menekan sekutu-sekutu Eropa agar meningkatkan belanja pertahanan, mendorong perundingan damai antara Rusia dan Ukraina, serta berupaya meredakan ketegangan dengan China terkait Taiwan.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait