REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Data yang dikumpulkan dari jutaan pemain Pokemon Go diduga digunakan untuk melatih drone militer berbasis kecerdasan buatan (Al) milik Amerika Serikat. Teknologi ini dinilai berpotensi membantu drone AS menentukan navigasi di zona perang, terutama ketika sinyal GPS tidak tersedia atau terganggu.
Pokemon Go, gim augmented reality (AR) yang dirilis pada 2016 oleh Niantic bekerja sama dengan Nintendo, memungkinkan pemain menemukan dan menangkap Pokemon di dunia nyata menggunakan kamera ponsel mereka. Gim tersebut meraih popularitas global dan pada 2018 dilaporkan telah diunduh lebih dari 800 juta kali di seluruh dunia.
Baca Juga- Apple Hadirkan Fitur Baru Pantau Gejala Perimenopause
- Kloning Suara Makin Ngeri, Android Luncurkan Fitur Deteksi Panggilan Palsu
- WhatsApp Rilis Fitur Close Friends Mirip Instagram
Pada 2021, Pokemon Go memperkenalkan fitur pemindaian lokasi melalui PokeStop. Fitur ini memungkinkan pemain memperoleh hadiah dalam gim dengan memindai bangunan atau lokasi tertentu menggunakan kamera ponsel.
Dari aktivitas ini, Niantic dilaporkan berhasil mengumpulkan lebih dari 30 miliar gambar dan pemindaian lokasi dari para pengguna. Data ini kemudian digunakan untuk mengembangkan sistem Visual Positioning System (VPS) yang membantu Al memahami dan memetakan ruang fisik di dunia nyata.
Teknologi tersebut kemudian menjadi bagian dari pengembangan Niantic Spatial, anak perusahaan Niantic yang berfokus pada pemetaan ruang dan sistem Al untuk robot, agen, serta sistem otonom yang membutuhkan pemahaman dunia fisik berbasis geometri dan fisika. Menurut laporan DroneXL, model navigasi berbasis kamera itu pada akhirnya digunakan oleh kontraktor pertahanan Amerika Serikat untuk drone dan robot militer lainnya.
"Dari gim seluler ke medan perang. Awalnya, pemain memindai dunia fisik melalui gim mobile, kemudian Niantic Spatial mengolah hasil pemindaian tersebut menjadi peta 3D yang memungkinkan mesin menentukan lokasi melalui penglihatan saat sinyal satelit tidak tersedia. Dan pada Desember 2025, Niantic Spatial mengumumkan kemitraan dengan perusahaan pertahanan bernama Vantor," demikian laporan DroneXL, dilansir laman NME, Sabtu (13/6/2026).
Kemitraan Niantic Sparial dengan Vantor bertujuan memungkinkan drone bernavigasi dan berkoordinasi secara presisi di area tanpa sinyal GPS. Dalam pernyataan resminya, disebutkan bahwa kemitraan ini juga menargetkan kelemahan utama operasi modern seperti ketidaktersediaan GPS, pemalsuan sinyal (spoofing), gangguan sinyal, dan jamming.
Juru bicara Niantic Spatial menilai mereka tidak mengunakan cara yang ilegal. Menurutnya, seluruh pemindaian AR yang dikumpulkan melalui Pokemon Go dikirimkan secara sukarela oleh pengguna yang memilih menggunakan fitur tersebut.
"Pengumpulan data tersebut telah mengikuti ketentuan layanan (Terms of Service) dan kebijakan privasi yang berlaku saat itu," kata juru bicara Niantic Spatial.
Penggunaan data warga sipil untuk tujuan militer memicu kekhawatiran dari sejumlah pihak. Kepala Kebijakan Digital Rights Watch, Tom Sulston, menilai praktik tersebut mengkhawatirkan karena sebagian besar pengguna tidak membaca dokumen syarat dan ketentuan yang panjang ketika mengunduh dan memainkan gim.
"Meskipun mungkin ada ketentuan dalam syarat dan ketentuan mereka, kita tahu bahwa kebanyakan orang tidak membaca dokumen hukum yang panjang ketika ingin bermain gim," kata Sulston, dikutip dari The Guardian, Sabtu (13/6/2026).
Sulston mengatakan regulator perlu menerapkan standar yang berfokus pada kepentingan terbaik pengguna atau prinsip "adil dan wajar" untuk mencegah eksploitasi data. la juga mengingatkan bahwa layanan perangkat lunak yang tampak gratis sering kali memperlakukan pengguna bukan sebagai pelanggan, melainkan sebagai produk yang dapat dimonetisasi.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika