Nasional

Di Balik Ritual Muharram yang Masih Dilestarikan Umat Muslim di Pulau Jawa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bulan Muharram atau Suro dalam penanggalan Jawa tidak hanya dimaknai sebagai awal tahun baru Hijriyah, tetapi juga menjadi momentum pelaksanaan berbagai ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun...

18 Juni 2026, pukul 14:49 WIB · dibaca 1 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bulan Muharram atau Suro dalam penanggalan Jawa tidak hanya dimaknai sebagai awal tahun baru Hijriyah, tetapi juga menjadi momentum pelaksanaan berbagai ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun di sejumlah daerah.

Sebagian masyarakat Jawa meyakini bulan Suro sebagai waktu yang baik untuk menggelar tradisi khusus yang bertujuan memohon keselamatan, kesejahteraan, hingga mencari berkah.

Baca Juga

Sedangkan dalam Islam, Muharram merupakan salah satu bulan suci yang memiliki kedudukan istimewa.

Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk berpuasa pada hari ke-10 Muharram atau Asyura. Namun, di tengah masyarakat Jawa, bulan ini juga diwarnai beragam tradisi yang masih terus dipertahankan hingga kini.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku "Dakwah Kreatif: Muharam, Maulid Nabi, Rajab, dan Sya'ban", terdapat sejumlah ritual khas masyarakat Jawa yang biasa dilakukan pada bulan Suro.

Tradisi pertama adalah larung kepala kerbau yang digelar masyarakat Tulungagung, Jawa Timur.

Dalam ritual tersebut, kepala kerbau ditempatkan di atas sampan bersama tumpeng nasi kuning dan bunga-bunga, lalu dilarung ke Laut Selatan Popoh.

Prosesi ini disertai doa yang berisi permohonan keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Di Sukabumi, Jawa Barat, masyarakat menggelar ritual mandi suci di kawasan Pelabuhan Ratu. Ribuan orang biasanya memadati muara di sekitar Samudera Beach Hotel untuk melakukan penyucian diri pada awal bulan Suro.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait