REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax mulai memicu efek domino yang memukul para pelaku usaha mikro di Kabupaten Majalengka. Tak hanya memicu penurunan omzet pedagang BBM eceran, kondisi itu juga memaksa para pedagang keliling memutar otak demi menyiasati biaya operasional yang kian mencekik.
Di wilayah Kecamatan Cigasong, lesunya bisnis eceran itu dirasakan langsung oleh Ucup (48 tahun). Pedagang bensin eceran tersebut mengaku volume penjualannya merosot tajam hingga 50 persen.
Baca Juga- Harga Pertamax Terbang Tinggi, Pertamina Jamin Stok Pertalite di Yogya Aman
- Harga Pertamax Naik Jadi Rp16 Ribu, Rakyat Beralih ke Pertalite demi Tekan Pengeluaran
- Kadisdik Jabar Tanggapi Santai Diadukan Orang Tua Murid ke Ombudsman Soal Carut Marut SPMB
"Biasanya satu hari bisa habis dua jeriken (sekitar 67 liter). Sekarang, dua hari baru habis," keluh Ucup, Senin (15/6/2026).
Menurut Ucup, konsumennya kini lebih memilih berburu Pertalite langsung ke SPBU resmi. Selisih harga yang menyentuh angka Rp 6.300 per liter menjadi alasan utama masyarakat bermigrasi ke BBM bersubsidi.
Kelesuan serupa juga membayangi para pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Majalengka. Mereka harus rela melihat pendapatan bersihnya tergerus biaya BBM yang membengkak.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika