Nasional

Efisiensi Operasi Hulu Migas, Pengurangan Metana Jadi Peluang Penghematan Biaya

BALI — Pengurangan emisi metana berpotensi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional industri hulu minyak dan gas bumi (migas). International Energy Agency (IEA) memperkirakan sekitar 60...

27 Oktober 2026, pukul 04:36 WIB · dibaca 0 kali

BALI — Pengurangan emisi metana berpotensi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional industri hulu minyak dan gas bumi (migas). International Energy Agency (IEA) memperkirakan sekitar 60 persen emisi metana dari sektor minyak dan gas di ASEAN pada 2025 dapat dikurangi tanpa biaya bersih tambahan bagi operator.

Penasihat Hukum dan Analis Regulasi International Energy Agency (IEA) Sadhika Gulati menjelaskan, pengurangan emisi metana tidak selalu membutuhkan tambahan biaya yang membebani perusahaan. Dalam kondisi tertentu, langkah mitigasi justru dapat memberikan manfaat ekonomi melalui pemanfaatan kembali gas yang sebelumnya terlepas ke atmosfer.

"Sebagian besar pengurangan emisi metana dapat dilakukan tanpa menimbulkan biaya bersih tambahan bagi operator," ujar Sadhika pada gelaran ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) 2026 di Bali, Senin (26/10/2026).

Menurut Sadhika, biaya investasi dan operasional untuk mengurangi emisi metana dalam sejumlah kasus lebih rendah dibandingkan dengan nilai pasar gas yang berhasil ditangkap kembali. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya memperoleh manfaat berupa penurunan emisi, tetapi juga berpeluang meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya yang sebelumnya terbuang.

Secara global, IEA memperkirakan lebih dari 35 juta ton metana atau sekitar 30 persen dari total emisi metana sektor bahan bakar fosil pada 2025 sebenarnya dapat dikurangi tanpa biaya bersih tambahan. Peluang tersebut diperkirakan semakin menarik pada 2026 seiring tekanan kenaikan harga bahan bakar.

Dalam konteks industri hulu migas, peluang penghematan biaya dapat diperoleh melalui sejumlah langkah operasional, antara lain pendeteksian dan perbaikan kebocoran fasilitas, penggantian perangkat yang berpotensi melepaskan metana, serta penangkapan dan pemanfaatan kembali gas yang sebelumnya terbuang.

Salah satu pendekatan yang disoroti IEA adalah Leak Detection and Repair (LDAR), yakni program pendeteksian dan perbaikan kebocoran gas secara berkala. Upaya tersebut membantu operator mengidentifikasi kehilangan gas dari fasilitas produksi sekaligus menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan.

IEA juga menyoroti peluang pemanfaatan gas ikutan (associated gas) dan pengurangan pembakaran gas suar (flaring) yang tidak berkaitan dengan kondisi darurat. Gas yang sebelumnya dibakar atau terlepas ke atmosfer berpotensi memiliki nilai ekonomi apabila dapat ditangkap dan dimanfaatkan secara teknis dan komersial.

Namun, tidak semua upaya mitigasi otomatis menghasilkan penghematan. Keekonomian setiap langkah bergantung pada karakteristik lapangan, volume gas yang dapat dipulihkan, biaya investasi, ketersediaan infrastruktur, serta peluang pemanfaatan atau penjualan gas tersebut.

Bagi Indonesia, pengurangan emisi metana dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan efisiensi operasi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi. Di tengah kebutuhan investasi untuk mempertahankan produksi dan mengembangkan lapangan migas, optimalisasi aset eksisting menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keekonomian operasi.

Penerapan teknologi pendeteksian kebocoran, perbaikan fasilitas, dan pemanfaatan gas ikutan dapat membantu operator mengurangi kehilangan sumber daya. Gas yang berhasil dipulihkan berpotensi digunakan untuk kebutuhan operasi, disalurkan kepada konsumen, atau dimanfaatkan melalui skema komersial lain sesuai kondisi lapangan.

Meski demikian, realisasi manfaat ekonomi tersebut membutuhkan evaluasi teknis dan finansial. Pada lapangan yang memiliki keterbatasan jaringan pipa atau fasilitas pengolahan, misalnya, pemanfaatan gas yang berhasil ditangkap dapat memerlukan investasi tambahan. Karena itu, operator perlu menentukan prioritas mitigasi berdasarkan potensi pengurangan emisi dan manfaat ekonomi yang dapat dicapai.

IEA juga menekankan pentingnya transparansi data dalam mempercepat upaya pengurangan emisi metana. Inventarisasi emisi yang akurat dapat membantu perusahaan menetapkan kondisi awal (baseline), mengidentifikasi sumber emisi terbesar, serta mengevaluasi efektivitas langkah mitigasi yang diterapkan.

Bagi operator hulu migas, data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan alokasi investasi secara lebih tepat. Perusahaan dapat memprioritaskan tindakan yang memberikan dampak pengurangan emisi terbesar dengan biaya yang paling efisien, sekaligus mengukur manfaat operasional dari gas yang berhasil dipulihkan.

Selain efisiensi biaya, pengurangan emisi metana juga semakin relevan terhadap daya saing industri migas. Sejumlah pasar internasional meningkatkan perhatian terhadap intensitas emisi dari produksi minyak dan gas. Kemampuan perusahaan mengukur, mengendalikan, dan melaporkan emisi pun berpotensi menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing produk energi.

Dalam paparannya, Sadhika menegaskan terdapat tiga faktor utama yang dapat memperkuat alasan bisnis bagi industri untuk mempercepat mitigasi metana, yakni biaya, transparansi, dan daya saing pasar.

Ketiga faktor tersebut menunjukkan bahwa pengurangan emisi metana tidak semata-mata merupakan agenda lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi operasional dan pengelolaan aset. Bagi industri hulu migas Indonesia, tantangannya adalah menerjemahkan peluang tersebut menjadi program konkret yang memberikan hasil terukur, baik dalam penurunan emisi maupun peningkatan nilai ekonomi sumber daya yang dihasilkan.

Lihat di situs asli

Berita terkait