REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Utang rumah tangga dan tingginya biaya hidup menekan konsumsi masyarakat Thailand. Ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026, melambat dari 2,8 persen pada kuartal sebelumnya.
Kepala National Economic and Social Development Council (NESDC) Danucha Pichayanan mengatakan ekonomi Thailand diperkirakan kembali menguat pada kuartal III. Dia menyebut kinerja ekonomi pada kuartal II cukup terdampak konflik di Timur Tengah.
Baca Juga- Pertamina Percepat Normalisasi Penyaluran BBM di Flores, Seberangkan Belasan Mobil Tangki dari Bima
- Dialog dan Kepastian Regulasi Jadi Kunci Pengelolaan Tanamalia
- Kepemimpinan yang Amanah dan Maslahah
“Perekonomian diperkirakan tumbuh lebih kuat pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal kedua, yang cukup terdampak oleh konflik di Timur Tengah,” kata Danucha dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Senin (17/8/2026).
Meski masih di atas perkiraan pasar sebesar 1,7 persen, pertumbuhan ekonomi Thailand melambat cukup tajam. Secara kuartalan dengan penyesuaian musiman, ekonomi Thailand bahkan terkontraksi 0,2 persen pada April-Juni 2026.
Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penekan pertumbuhan. Tingginya utang rumah tangga dan biaya hidup membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan. Di saat yang sama, investasi pemerintah juga menurun.
Investasi swasta masih menjadi penopang ekonomi Thailand. Investasi swasta tumbuh 13,4 persen pada kuartal II, sementara ekspor barang juga meningkat. Namun, penguatan tersebut belum cukup mengangkat pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
Thailand kemudian menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 2-2,5 persen, dari sebelumnya 1,5-2,5 persen.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika