REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit malam di berbagai belahan dunia pada penghujung Juni 2026 dihiasi fenomena Strawberry Moon, bulan purnama yang menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinantikan setiap tahun. Mulai dari Indonesia, hingga sejumlah negara Eropa, masyarakat mengabadikan kemunculan bulan purnama yang tampak memikat di ufuk timur sesaat setelah matahari terbenam.
Meski disebut Strawberry Moon atau Bulan Stroberi, fenomena ini tidak membuat bulan berubah menjadi merah muda seperti buah stroberi. Nama tersebut berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang menjadikan purnama Juni sebagai penanda musim panen stroberi liar. Di Eropa, bulan purnama ini juga dikenal sebagai Honey Moon atau Mead Moon, karena bertepatan dengan musim panen madu dan pembuatan minuman fermentasi tradisional.
Tahun ini, Strawberry Moon memiliki keunikan tersendiri. Selain berstatus sebagai micromoon, yakni terjadi ketika bulan berada di titik terjauh dari Bumi (apogee), bulan juga tampak menempuh lintasan yang lebih rendah di langit bagi pengamat di belahan bumi utara. Posisi tersebut membuat bulan terlihat lebih besar dan berwarna keemasan hingga jingga ketika muncul di dekat cakrawala, meski ukuran sebenarnya sedikit lebih kecil dibanding bulan purnama rata-rata. Efek tersebut merupakan ilusi optik yang dipengaruhi atmosfer Bumi.
Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : EPA