REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pesantren dan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkolaborasi meluncurkan program prioritas untuk pesantren dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kantor Kementerian Agama RI, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).
Kerjasama PBNU dan Kemenag akan berfokus pada tiga program prioritas Direktorat Jenderal Pesantren, yakni Pesantren Adaptif dan Mandiri, Santri 5.0, dan Dakwah Digital.
"Negara punya kebijakan dan anggaran. NU punya jaringan pesantren terbesar dan kedekatan dengan para kiai. Kalau keduanya berjalan sendiri, dampaknya terbatas. Kalau bergandengan, programnya bisa sampai ke pesantren paling ujung,” kata Wakil Ketua Umum PBNU Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid usai membacakan Resolusi Jihad di upacara peringatan Hari Santri di Kemenag, Jakarta, Kamis.
Selain itu, kata Gus Ipang Wahid, kolaborasi tersebut berpijak pada arah besar organisasi. "Ini sejalan dengan visi besar Ketua Umum PBNU, merujuk pada Qanun Asasi," ujar Gus Ipang. Qanun Asasi merupakan landasan dasar Nahdlatul Ulama yang disusun oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Ketiga program itu merupakan bagian dari lima program prioritas Ditjen Pesantren yang diumumkan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam peringatan Hari Santri. Yakni, Safe Santri, Penguatan Rekognisi Ijazah, Pesantren Latih dan Mandiri, Santri 5.0, serta Dakwah Digital.
Safe Santri diarahkan untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan. Penguatan Rekognisi Ijazah ditujukan untuk memperluas akses pendidikan dan karier lulusan pesantren.
Sementara itu, Pesantren Latih dan Mandiri berfokus pada penguasaan teknologi serta kemandirian ekonomi. Santri 5.0 disiapkan untuk memperkuat kemampuan santri dalam ilmu agama sekaligus keterampilan, sedangkan Dakwah Digital mendorong dakwah pesantren hadir secara kreatif dan relevan di ruang digital.
“Semoga langkah ini menjadi ikhtiar nyata untuk menciptakan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri,” kata Menag dalam pidatonya.
Kemenag menggandeng PBNU dalam tiga program prioritas tersebut karena beberapa alasan. Pesantren Latih dan Mandiri berfokus pada penguasaan teknologi serta kemandirian ekonomi. Melalui program ini, penguatan pesantren diarahkan agar mampu mengembangkan kapasitas dan merespons kebutuhan zaman.
Sedangkan program keempat, Santri 5.0, karena mempersiapkan santri yang ahli dalam ilmu agama sekaligus memiliki keterampilan. Penguatan kedua kemampuan tersebut menjadi bekal bagi santri untuk memperluas kontribusinya di masyarakat.
Sementara itu, program kelima, Dakwah Digital, mendorong pesantren mengembangkan penyampaian dakwah yang sesuai dengan perkembangan media dan cara masyarakat mengakses informasi. “Dakwah Digital, agar dakwah pesantren hadir secara kreatif dan relevan di ruang digital,” kata Menag.
Ikuti Whatsapp Channel Republika