Nasional

Gema Baru dari Bandung: Kerja sama Indonesia-Tiongkok Membuka Jalan Pengembangan Talenta Lokal

JAKARTA -- Bandung di Provinsi Jawa Barat terkenal sebagai tuan rumah Konferensi Asia-Afrika 1955, dengan "Semangat Bandung"-nya telah menjadi simbol persatuan dan kerja sama antarnegara berkembang. Tujuh puluh tahun...

23 Oktober 2026, pukul 10:22 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Bandung di Provinsi Jawa Barat terkenal sebagai tuan rumah Konferensi Asia-Afrika 1955, dengan "Semangat Bandung"-nya telah menjadi simbol persatuan dan kerja sama antarnegara berkembang. Tujuh puluh tahun kemudian, sebuah proyek kerja sama Indonesia-Tiongkok mulai terbentuk di sebuah universitas bergengsi di kota tersebut.

Pada 28 Agustus 2024, Laboratorium Penelitian Bersama Tiongkok-Indonesia untuk Material Energi Baru dan Teknologi Teknik Metalurgi (selanjutnya disebut Laboratorium Bersama) diresmikan di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor. Laboratorium Bersama ini didirikan oleh GEM Co., Ltd., sebuah perusahaan ekonomi sirkular asal Tiongkok, dengan investasi sebesar 30 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp18.011), bekerja sama dengan ITB dan Central South University (CSU), Tiongkok.

Ini merupakan laboratorium penelitian bersama pertama antara Tiongkok dan Indonesia di bidang material energi baru dan teknik metalurgi. Sebelumnya, GEM Co., Ltd. sudah meluncurkan program pengembangan talenta untuk industri metalurgi Indonesia pada 2019, yang telah memberikan dampak positif pada ekosistem sektor industri tersebut.

Bagi GEM, inisiatif program pendidikan bagi talenta kelas atas di Indonesia memiliki rantai logika yang jelas: ekspansi bisnis di Indonesia mendatangkan kekurangan talenta lokal; kekurangan ini mendorong kerja sama pendidikan; kerja sama pendidikan pada gilirannya mendukung pengembangan industri lokal; dan pengembangan industri mendorong pertukaran budaya dan pemahaman timbal balik.

Rantai ini dimulai dengan jejak pengembangan GEM di Indonesia, dan titik akhirnya mengarah pada "Semangat Bandung" yang baru untuk pembangunan berkelanjutan dan saling menguntungkan di seluruh kawasan Global South.

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 14 Juni 2024 ini menunjukkan peserta wisuda kelompok kedua dengan program pelatihan bersama di bidang teknik metalurgi berfoto bersama sesudah acara kelulusan di depan pintu gerbang Central South University (CSU) di Tiongkok tengah. - (Xinhua)

Laboratorium bersama mendorong pengembangan metalurgi di RI

Terletak di tengah hijaunya pepohonan, Laboratorium Bersama ini menyimpan banyak keunggulan. Dilengkapi dengan sekitar 300 set instrumen dan peralatan penelitian ilmiah terkemuka di dunia, laboratorium ini telah membangun sistem penelitian dan pengembangan (litbang) tiga tingkat yang mencakup penelitian eksplorasi, eksperimen skala kecil, dan eksperimen semi-industri.

Laboratorium ini memiliki peralatan skala pilot dengan kapasitas reaktor mulai dari 2 liter hingga 1.000 liter, memungkinkan penelitian teknis di bidang-bidang seperti pemanfaatan sumber daya mineral, pengembangan material energi baru, daur ulang sumber daya, dan tata kelola lingkungan. Gedung laboratorium ini banyak menggunakan material daur ulang, dan kampus ini mencakup banyak ruang rekreasi hijau.

"Menurut statistik pendaftaran mahasiswa S1 tahun 2026 yang dirilis oleh portal data Indonesia Databoks, program studi metalurgi di ITB mengalami peningkatan jumlah pendaftaran, melampaui program studi kedokteran di dua universitas bergengsi lainnya di Indonesia," kata Imam Santoso, dosen Metalurgi Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan di ITB. "Perubahan mengejutkan ini berkat pendirian Laboratorium Bersama, yang telah menjadi sumber kebanggaan bagi ITB, dan menjadi andalan dalam video promosi kampus kami. Ini merupakan magnet besar, menarik semakin banyak anak muda berprestasi untuk melanjutkan studi mereka di sini." 

Selain sebagai profesor muda, Imam juga dikenal sebagai seorang pemengaruh di bidang pendidikan di Indonesia. Dia membuat video pendek dan mengunggahnya di akun media sosial, seperti akun @santosoim di Instagram, yang menampilkan kegiatan penelitian di laboratorium dan kehidupan kampus. Imam membawa laboratorium yang sebelumnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu itu ke khalayak yang lebih luas, misalnya menunjukkan mahasiswi muda yang melakukan eksperimen menggunakan peralatan canggih di Laboratorium Bersama, profesor yang mendemonstrasikan struktur mikroskopis abu vulkanik menggunakan mikroskop elektron ultrapresisi, serta kehidupan sehari-hari mahasiswa Indonesia di CSU Tiongkok. Video-video pendek ini menjadi viral di akun media sosialnya, bahkan beberapa di antaranya mendapatkan puluhan juta penayangan dan dibagikan secara luas.

   

"Laboratorium ini dengan cepat menjadi destinasi kunjungan teknologi populer setelah selesai dibangun. Pada tahun pertama operasinya, kami menerima kunjungan dari universitas lain, lembaga penelitian, dan kelompok sosial hampir setiap hari. Bahkan sampai sekarang, kami masih menerima permintaan kunjungan setiap minggu," kata Imam.

Zaki Mubarok, profesor Metalurgi ITB sekaligus ketua Laboratorium Bersama, mengatakan bahwa dengan dukungan dari laboratorium tersebut, timnya baru-baru ini telah menerbitkan empat makalah di jurnal akademik internasional. 

"Dahulu, kami kekurangan peralatan canggih yang dibutuhkan, sehingga sulit untuk melakukan penelitian tingkat tinggi. Setelah itu, beberapa pengujian harus dikirim ke pihak luar, dan hasilnya sering kali membutuhkan waktu dua hingga tiga pekan," kata Zaki. "Sekarang, banyak pengujian dapat diselesaikan di laboratorium kami, dengan hasil yang tersedia keesokan harinya, jadi secara signifikan meningkatkan efisiensi penelitian. Laboratorium ini juga terbuka untuk mahasiswa ITB bahkan lembaga eksternal. Mereka dapat mengajukan permohonan penggunaan setelah menyelesaikan proses registrasi," jelasnya.

Menurut data yang diberikan oleh Zaki dan timnya, sejak Laboratorium Bersama mulai beroperasi, lebih dari 50 mahasiswa magister teknik, doktor, dan peneliti pascadoktoral dari Indonesia dan Tiongkok telah melakukan penelitian di Laboratorium Bersama, memajukan lebih dari 50 proyek penelitian dan mengajukan lebih dari 300 paten di Indonesia. Hasil penelitian dan pengaruh akademik ITB di bidang metalurgi meningkat signifikan.

Bersamaan dengan itu, laboratorium ini telah membantu ITB melengkapi industri pertambangan dan metalurgi Indonesia dengan talenta profesional, memenuhi kebutuhan personel untuk pengembangan industri pengolahan mineral hilir di Indonesia. Laboratorium ini juga telah menjadi model kerja sama industri-akademisi-penelitian antara kedua negara, menarik lebih dari 2.000 tenaga ahli dan peneliti dari seluruh dunia untuk berkunjung dan melakukan pertukaran hingga saat ini.

Foto dokumentasi menunjukkan pemandangan Laboratorium Penelitian Bersama Tiongkok-Indonesia untuk Material Energi Baru dan Teknologi Teknik Metalurgi (Laboratorium Bersama) di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jatinangor, Provinsi Jawa Barat. - (Xinhua)

Loading... sumber : Xinhua
Lihat di situs asli

Berita terkait