Nasional

Gempa Susulan di NTT Capai 1.624 Kali, BMKG Catat 23 Gempa di Atas M5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivitas kegempaan masih berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa Flores berkekuatan M7,7 pada 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.624 gempa...

17 Agustus 2026, pukul 07:40 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivitas kegempaan masih berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa Flores berkekuatan M7,7 pada 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.624 gempa susulan hingga Senin (17/8/2026) pukul 11.00 WIB, dengan magnitudo M1,3 hingga M6,2.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo lebih dari M5. BMKG masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan sekaligus mengevaluasi dampak gempa dan tsunami di wilayah terdampak.

Baca Juga

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan, gempa utama terjadi di wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dengan parameter pemutakhiran M7,7. Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik dan memicu tsunami di sejumlah wilayah.

“BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman SIAGA (0.5 - 3 meter) dan Waspada (

Peringatan dini tsunami mencakup sejumlah wilayah, antara lain Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto dengan status Siaga. Sementara Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo masuk dalam status Waspada.

Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa bumi.

Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan tsunami terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yakni NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB sebesar 1,605 meter, sedangkan yang terendah tercatat di Bakalang, Alor, NTT, pada pukul 05.41 WIB sebesar 0,14 meter.

Berdasarkan pemantauan sementara dan informasi lapangan, gempa Flores M7,7 menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang luka-luka. Kerusakan juga dilaporkan di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka dan Maumere, dengan tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga berat.

“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” ujar Wijayanto.

Survei tersebut dilakukan untuk mendukung pemulihan dan rekonstruksi pascabencana. Hasilnya juga akan digunakan untuk pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi.

BMKG memprioritaskan survei di wilayah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat dan membandingkannya dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui karakteristik wilayah dan respons tanah terhadap guncangan gempa.

Selain pemantauan teknis, BMKG melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan informasi mengenai kondisi pascagempa. Masyarakat juga diingatkan tetap waspada terhadap aktivitas gempa susulan.

"Masyarakat juga diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, serta mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi," ujar Wijayanto.

Lihat di situs asli

Berita terkait