REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Singkong bukan sekadar pangan tradisional. Di tangan perguruan tinggi dan pelaku usaha masyarakat, komoditas lokal Banjarnegara tersebut dikembangkan menjadi mocaf dan berbagai pangan alternatif yang bernilai tambah. Upaya itu dilakukan Pusat Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Bertajuk "Penerapan Teknologi Produksi Mocaf dan Produk Pangan Pokok Alternatif Pengganti Beras dan Terigu untuk Menguatkan Daya Saing Usaha Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Unggulan Banjarnegara", Unsoed ingin pangan lokal naik kelas. Program yang dilaksanakan secara bertahap selama tiga tahun ini memasuki tahap akhir pada 2026.
Baca Juga- Pengangguran Masih 7,24 Juta, Kesenjangan Kampus dan Industri Jadi Sorotan
- Cerita Alumni UBSI Kampus Purwokerto yang Kini Pimpin Perusahaan
- Pertama Kalinya, 150 Periset BRIN Pamerkan Hasil Riset di Istana
Program diketuai Dr Santi Dwi Astuti dengan melibatkan mahasiswa dan bekerja sama dengan dua mitra, yakni UD Usaha Mandiri dan KWT Sinar Tani. Mereka mendapat dukungan dari Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara. "Program ini menjadi bagian dari hilirisasi hasil riset perguruan tinggi," kata Santi dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika