REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Uni Eropa berencana membuka saluran komunikasi diplomatik langsung dengan Rusia untuk menyampaikan dan menerima pesan tanpa melalui perantara. Namun, blok tersebut menegaskan tidak akan mengambil peran sebagai mediator dalam konflik Ukraina.
Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, mengatakan Uni Eropa perlu memiliki jalur komunikasi sendiri dengan Moskow agar tidak hanya bergantung pada interpretasi pihak lain terhadap sikap Rusia.
Baca Juga- Apa yang Disorot ASEAN pada Rusia yang Gagal Dilihat Barat?
- Kode Keras untuk Rusia, AS Setuju Bangun Pangkalan Militer di Polandia
- Turki Bidik Takhta Kaviar Rusia, Nilainya Miliaran Dolar
"Yang saya lakukan melalui kantor saya adalah membangun saluran diplomatik, karena kami tidak bisa hanya bergantung pada orang lain untuk menafsirkan pesan-pesan Rusia. Kami harus mampu menyampaikan pesan kami sendiri secara langsung kepada Rusia," kata Costa dalam konferensi pers usai pertemuan Dewan Eropa di Brussels, Jumat (20/6).
Costa menegaskan aturan yang berlaku di Uni Eropa memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil inisiatif menjalin kontak diplomatik tersebut.
Menurut dia, komunikasi langsung diperlukan agar Uni Eropa dapat memahami posisi Rusia secara lebih akurat sekaligus menyampaikan pandangan blok tersebut tanpa distorsi.
Meski demikian, Costa menekankan bahwa pembukaan saluran komunikasi dengan Moskow tidak berarti Uni Eropa akan berperan sebagai penengah dalam perundingan terkait perang di Ukraina.
"Uni Eropa tidak ingin menjadi mediator dalam negosiasi mengenai Ukraina," ujarnya.
Pernyataan Costa muncul ketika berbagai upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina terus berlangsung, sementara hubungan antara Uni Eropa dan Moskow masih berada pada titik terendah akibat perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Langkah membuka jalur komunikasi langsung dinilai sebagai upaya menjaga ruang diplomasi tetap terbuka di tengah ketegangan yang masih membayangi hubungan kedua pihak.
Tidak Bulat
Rencana membuka saluran komunikasi langsung dengan Rusia ternyata tidak diterima secara bulat di dalam Uni Eropa. Menurut laporan Politico, isu negosiasi dengan Moskow telah memecah para pemimpin negara anggota menjadi dua kubu yang berbeda pandangan.
Perbedaan sikap tersebut mengemuka dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa di Brussels pada 18-19 Juni. Para pemimpin negara anggota bahkan membahas isu tersebut dalam pertemuan tertutup tanpa didampingi staf maupun perangkat komunikasi, menunjukkan sensitivitas persoalan yang sedang dibahas.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara