Nasional

HUT RI ke-81, Akademisi UNIPA: Perdamaian Jadi Kunci Papua Maju

REPUBLIKA.CO.ID,MANOKWARI — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat persatuan dalam membangun Papua di tengah keberagaman masyarakat dan kompleksitas tantangan pembangunan. Akademisi...

17 Agustus 2026, pukul 10:46 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID,MANOKWARI — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat persatuan dalam membangun Papua di tengah keberagaman masyarakat dan kompleksitas tantangan pembangunan.

Akademisi Universitas Papua (UNIPA), Dr. Hendrik Arwam, mengatakan pembangunan Papua tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Fondasi paling penting yang harus terus diperkuat adalah perdamaian dan rasa saling percaya di tengah masyarakat.

Baca Juga

“Pembangunan membutuhkan perdamaian. Tanpa perdamaian, sulit bagi masyarakat untuk membangun masa depan secara bersama-sama. Karena itu, semangat persatuan harus terus dipupuk pada setiap orang Papua,” ujar Hendrik dalam refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menurut Hendrik, Papua memiliki karakter sosial yang sangat beragam. Perbedaan suku, bahasa, budaya, agama, dan latar belakang sosial merupakan kekayaan yang seharusnya menjadi energi pembangunan, bukan sumber perpecahan.

Ia menilai kebinekaan Papua perlu dikelola sebagai kekuatan sosial. Pembangunan tidak akan berjalan optimal apabila masyarakat masih dibebani prasangka, ketidakpercayaan, maupun konflik horizontal.

“Papua memiliki kebinekaan yang luar biasa. Perbedaan itu jangan dilihat sebagai kelemahan. Justru kebinekaan harus menjadi modal sosial untuk membangun Papua bersama-sama,” katanya.

Hendrik menilai rasa saling percaya antarsesama masyarakat merupakan salah satu modal paling penting bagi Papua untuk bergerak lebih maju. Kepercayaan akan memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, tokoh agama, tokoh adat, dan generasi muda.

“Kalau kita saling percaya, kita bisa bekerja sama. Kalau kepercayaan hilang, program pembangunan sebagus apa pun akan sulit mendapatkan dukungan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan Papua menurutnya harus ditempatkan dalam kerangka pembangunan manusia. Masyarakat bukan hanya penerima kebijakan, tetapi harus menjadi bagian dari proses merumuskan, menjalankan, dan mengawasi pembangunan.

“Pembangunan harus menghadirkan rasa memiliki. Masyarakat perlu merasa bahwa pembangunan adalah milik bersama, bukan sesuatu yang datang dari luar kemudian hanya mereka terima hasilnya,” kata Hendrik.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait