BALI — Pengurangan emisi metana dari sektor minyak dan gas berpotensi membuka peluang tambahan pasokan gas sekaligus memperkuat ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara. International Energy Agency (IEA) memperkirakan, mitigasi emisi metana dari operasi minyak dan gas secara global berpotensi menyediakan hampir 100 miliar meter kubik gas per tahun. Sementara itu, penghapusan pembakaran gas suar (flaring) non-darurat berpotensi menambah pasokan hampir 100 miliar meter kubik per tahun.
Penasihat Hukum dan Analis Regulasi International Energy Agency (IEA) Sadhika Gulati menjelaskan pengurangan emisi metana tidak hanya penting untuk menekan dampak perubahan iklim, tetapi juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat ketahanan energi, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi pasokan energi global.
Berdasarkan analisis IEA, mitigasi metana dari kegiatan operasional minyak dan gas di seluruh dunia berpotensi menyediakan hampir 100 miliar meter kubik gas ke pasar setiap tahun. Jumlah tersebut dapat bertambah dengan penghapusan praktik pembakaran gas suar yang tidak berkaitan dengan kondisi darurat.
"Pemotongan emisi metana dari operasi minyak dan gas serta penghapusan pembakaran gas suar non-darurat dapat menyediakan hampir 200 miliar meter kubik gas ke pasar setiap tahun," ujar Sadhika pada gelaran ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) 2026 di Bali, Senin (26/10/2026).
Sadhika menjelaskan, potensi tambahan pasokan tersebut menjadi semakin relevan ketika pasar energi menghadapi gangguan akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Dalam paparannya, ia menyebut penutupan efektif Selat Hormuz pada 2026 telah mengganggu pasokan energi global, termasuk sekitar 110 miliar meter kubik gas per tahun.
Dengan demikian, pengurangan emisi metana dan pembakaran gas suar berpotensi membuka pasokan gas dalam skala yang sebanding dengan volume pasokan yang terdampak krisis tersebut. Meski demikian, realisasi tambahan pasokan membutuhkan waktu, infrastruktur, dan peralatan yang memadai.
IEA memperkirakan, apabila negara-negara dengan kapasitas ekspor cadangan dan negara pengimpor gas menerapkan langkah mitigasi yang tersedia di seluruh jaringan gas mereka, sekitar 15 miliar meter kubik gas dapat tersedia dalam waktu relatif singkat untuk membantu mengurangi tekanan pasokan energi.
Bagi industri hulu migas di kawasan ASEAN, pengurangan emisi metana juga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasi. Gas yang sebelumnya terlepas ke atmosfer akibat kebocoran fasilitas atau terbuang melalui proses operasional tertentu berpotensi ditangkap dan dimanfaatkan kembali apabila memenuhi persyaratan teknis dan ekonomis.
Sadhika menyampaikan, sebagian besar upaya pengurangan emisi metana dapat dilakukan tanpa menimbulkan biaya bersih tambahan bagi operator. Dalam paparannya, IEA memperkirakan sekitar 60 persen emisi metana dari sektor minyak dan gas di ASEAN pada 2025 berpotensi dikurangi tanpa biaya bersih tambahan.
Potensi tersebut didukung oleh nilai ekonomi gas yang berhasil ditangkap kembali. Dalam kondisi tertentu, nilai gas yang dapat dijual atau dimanfaatkan bisa lebih tinggi daripada biaya investasi dan operasional yang diperlukan untuk mengurangi emisi.
"Sebagian besar pengurangan emisi metana dapat dilakukan tanpa menimbulkan biaya bersih tambahan bagi operator," ujar Sadhika dalam paparannya.
IEA mencatat, secara global, lebih dari 35 juta ton metana atau sekitar 30 persen dari total emisi metana pada 2025 sebenarnya dapat dikurangi tanpa biaya bersih tambahan. Peluang tersebut diperkirakan semakin menarik ketika harga bahan bakar mengalami tekanan kenaikan.
Bagi Indonesia, peluang ini relevan dengan upaya mengoptimalkan produksi dan pemanfaatan gas bumi. Pengurangan kebocoran, pemanfaatan gas ikutan (associated gas), serta pengendalian pembakaran gas suar dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi aset hulu migas sekaligus mengurangi emisi operasional.
Namun, besarnya potensi tambahan pasokan gas di Indonesia perlu dihitung berdasarkan kondisi lapangan, karakteristik gas, ketersediaan infrastruktur, dan keekonomian proyek. Gas yang berhasil ditangkap tidak serta-merta dapat disalurkan ke konsumen tanpa fasilitas pengolahan dan transportasi yang sesuai.
Di sisi lain, IEA menilai upaya pengurangan emisi metana global masih menghadapi tantangan. Meskipun komitmen pemerintah dan perusahaan terus berkembang, emisi metana dari kegiatan operasional bahan bakar fosil belum menunjukkan penurunan yang konsisten.
Dalam Global Methane Tracker 2026, IEA memperkirakan emisi metana dari sektor bahan bakar fosil mencapai sekitar 125 juta ton pada 2025. Sektor tersebut menyumbang sekitar 35 persen emisi metana yang berasal dari aktivitas manusia.
Sementara itu, intensitas metana rata-rata global dari kegiatan hulu minyak dan gas memang telah turun sekitar 10 persen selama periode 2019–2025. Namun, penurunan tersebut dinilai belum cukup untuk mengoptimalkan potensi mitigasi yang tersedia.
Menurut Sadhika, terdapat tiga faktor utama yang dapat memperkuat alasan bisnis bagi industri untuk mempercepat pengurangan emisi metana, yakni biaya, transparansi, dan daya saing pasar.
Transparansi diperlukan agar perusahaan memiliki data dasar (baseline) yang akurat untuk mengukur emisi, menentukan langkah mitigasi, dan mengevaluasi hasilnya. Data tersebut juga membantu perusahaan mengidentifikasi sumber kebocoran dan menghitung manfaat ekonomi dari gas yang berhasil diselamatkan.
Adapun dari sisi daya saing, pengelolaan metana semakin menjadi perhatian dalam perdagangan energi internasional. Sejumlah negara dan pasar impor mulai meningkatkan perhatian terhadap emisi yang terkandung dalam produk minyak dan gas, termasuk melalui pengembangan standar pengukuran dan pelaporan emisi.
Kondisi ini berpotensi mendorong operator migas untuk tidak hanya berfokus pada volume produksi dan biaya, tetapi juga pada intensitas emisi selama proses produksi.
Karena itu, pengurangan metana dapat menjadi bagian dari strategi industri hulu migas ASEAN untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mempertahankan daya saing di pasar global.
Ikuti Whatsapp Channel Republika