REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dipengaruhi oleh kombinasi sentimen dari tingkat global dan domestik. Hal itu membuat IHSG terkoreksi cukup dalam pada perdagangan sesi II.
IHSG tercatat melemah 130,52 poin atau 2,20 persen ke posisi 5.812,50 pada perdagangan pukul 14.00 WIB di BEI pada Kamis (15/10/2026).
Baca Juga- Pupuk dan Paving Block dari Eceng Gondok Bawa Harapan Baru untuk Penyintas Korban Longsor Pasirlangu
- RUPSLB Tetapkan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN
- Dukungan Rantai Dingin Diperkuat untuk Perikanan Papua
“Pelemahan IHSG hari ini masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik, terutama tekanan terhadap rupiah, kenaikan yield US Treasury, serta potensi capital outflow dari investor asing,” ujar Elandry saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Seiring berbagai kombinasi sentimen tersebut, Elandry menyebut kondisi ini telah menekan risk appetite investor global terhadap aset-aset berisiko, termasuk instrumen saham.
Hal tersebut tercermin dari investor asing yang mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 182,94 miliar hingga penutupan perdagangan sesi I pada Kamis hari ini.
“Untuk memastikan pemicu utamanya, perlu dilihat pergerakan net sell asing dan saham-saham big caps yang paling membebani indeks,” katanya.
Terkait rekomendasi bagi investor, Elandry melihat saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar besar masih menarik masuk radar untuk dikoleksi, terutama saat mengalami koreksi yang menjadikan valuasinya lebih atraktif.
Namun demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap selektif dan tidak terburu-buru melakukan akumulasi sebelum tekanan jual mereda dan volatilitas pasar lebih stabil.
“Namun, investor sebaiknya tetap selektif dan tidak terburu-buru melakukan akumulasi sebelum tekanan jual mereda dan volatilitas pasar lebih stabil,” tuturnya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : ANTARA