REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks saham negara berkembang berbasis prinsip syariah mencatat kinerja yang kuat sepanjang 2026. Berdasarkan laporan Daily Wealth Wire OCBC Wealth Management per 13 Agustus 2026, indeks saham yang tergabung dalam MSCI Emerging Markets Islamic M USD Index mencatat kenaikan 42,59 persen secara year to date (ytd).
MSCI Emerging Markets Islamic M USD Index pada perdagangan 13 Agustus 2026 naik 2,14 persen dalam sehari. Sementara itu, kinerja pasar saham Indonesia masih berusaha bergerak pada tren positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terkoreksi 26,29 persen (ytd). Termasuk LQ 45 yang -25,13 persen, sedangkan indeks SRI-KEHATI turun 19,67 persen.
Baca Juga- Lagi Razia Satpol PP Ini Diduga Curi Rokok Pedagang
- Bug Bounty, Peluang Karier Hacker Etis yang Menjanjikan di Era Digital
- IATL ITB Sebut RUU Air Minum dan Sanitasi Jawab Ancaman Krisis Iklim
MSCI Emerging Markets Islamic Index merupakan indeks yang dirancang untuk mengukur kinerja saham berkapitalisasi besar dan menengah di negara-negara berkembang yang memenuhi prinsip investasi syariah. MSCI menerapkan penyaringan berdasarkan aktivitas bisnis dan rasio keuangan perusahaan.
Emiten Dalam Indeks MSCI Syariah
Dalam factsheet MSCI per 31 Juli 2026, indeks tersebut terdiri atas 393 konstituen dari 24 negara berkembang. Kapitalisasi pasar indeks mencapai sekitar 4,51 triliun dolar AS.
Performa kuat indeks saham syariah emerging markets tersebut tidak terutama didorong oleh perusahaan keuangan syariah atau emiten dari Timur Tengah. Struktur indeks justru sangat didominasi perusahaan teknologi Asia.
MSCI mencatat sektor teknologi informasi memiliki bobot 52,12 persen dalam indeks. Korea Selatan menjadi negara dengan bobot terbesar, yakni 39,35 persen, disusul Taiwan 16,14 persen, China 12,78 persen, dan India 11,57 persen.
Dua konstituen terbesar indeks adalah perusahaan semikonduktor Korea Selatan, SK Hynix dengan bobot 15,62 persen dan Samsung Electronics sebesar 13,59 persen. Di posisi berikutnya terdapat MediaTek 3,80 persen, Delta Electronics 2,36 persen, serta Hon Hai Precision Industry 2,26 persen.
Dengan demikian, sekitar 29 persen indeks hanya berasal dari dua saham teknologi Korea Selatan tersebut. Jika ditambah sejumlah perusahaan teknologi Taiwan dan China dalam jajaran 10 besar, eksposur terhadap rantai industri semikonduktor dan teknologi menjadi semakin dominan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa label "Islamic" pada indeks tidak berarti indeks tersebut didominasi sektor keuangan syariah. Justru penyaringan syariah membuat investor tetap dapat memperoleh eksposur terhadap sektor-sektor pertumbuhan seperti semikonduktor, perangkat keras teknologi, dan industri yang berkaitan dengan ekonomi digital.
Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole menyampaikan pertumbuhan global saat ini didorong oleh teknologi dan AI. Sehingga saat ini, investasi terbesar masuk pada belanja untuk infrastruktur AI.
"Tren pasar global memberikan perhatian besar terhadap tema kecerdasan buatan (AI), momentum investasi pada semester II 2026 setidaknya akan dipengaruhi oleh tatan dunia, kondisi geopolitik Timur Tengah, pertumbuhan di China, AI dan teknologi," katanya pada Executive Editors Roundtable OCBC, Kamis (13/8/2026).
Selain saham teknologi di pasar Asia, saham teknologi Amerika Serikat menjadi salah satu penggerak pasar setelah sejumlah perusahaan yang terkait dengan infrastruktur AI mencatat pertumbuhan penjualan yang kuat.
CoreWeave dan Super Micro Computer, misalnya, masing-masing melonjak sekitar 19 persen, sedangkan Nebius naik 34 persen. OCBC menilai kinerja tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa belanja untuk infrastruktur AI masih tinggi.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika