Nasional

Indonesia Hasilkan 14,73 Juta Ton Sampah Makanan per Tahun, Pelajar Diajak Bergerak

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Sisa makanan yang terbuang bukan sekadar persoalan kebersihan. Di baliknya, ada pemborosan sumber daya, ancaman terhadap ketahanan pangan, hingga emisi gas rumah kaca. Indonesia bahkan disebut menghasilkan...

21 Oktober 2026, pukul 12:47 WIB · dibaca 1 kali

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Sisa makanan yang terbuang bukan sekadar persoalan kebersihan. Di baliknya, ada pemborosan sumber daya, ancaman terhadap ketahanan pangan, hingga emisi gas rumah kaca. Indonesia bahkan disebut menghasilkan 14,73 juta ton sampah makanan setiap tahun, menjadikannya negara penghasil sampah makanan terbesar di Asia Tenggara.

Persoalan ini mendorong Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) berkolaborasi dengan Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas) mengajak generasi muda lebih peduli terhadap sampah makanan.

Melalui program Zero Food Waste Literacy Campaign bertema “Langkah Kecil, Dampak Global”, sebanyak 50 siswa SMAN 5 Makassar diajak memahami dampak sampah makanan sekaligus mencari solusi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Prof. Syukur Abdullah, FISIP Unhas, Makassar, Selasa (20/10/2026).

Associate Professor Departemen Hubungan Internasional FISIP UI, Asra Virgianita, Ph.D., mengatakan, sampah makanan berkaitan erat dengan tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan pola konsumsi masyarakat.

Menurut dia, makanan yang terbuang tidak hanya menyia-nyiakan sumber daya untuk memproduksinya, seperti air, energi, dan lahan. Sampah makanan yang membusuk di tempat pemrosesan akhir juga menghasilkan emisi gas rumah kaca.

“Isu ini masih belum banyak disadari masyarakat, sehingga literasi tentang sampah makanan perlu dibangun sedini mungkin,” ujar Asra dalam pemaparannya.

Ia menekankan, upaya mengurangi sampah makanan bisa dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk rumah tangga. Perubahan kebiasaan memang membutuhkan proses panjang, tetapi dapat diawali dengan membangun kesadaran setiap individu.

“Langkah kecil itu bisa dimulai dari rumah, dari rumah tangga teman-teman sendiri. Internalisasi nilai memang butuh proses panjang, tidak cukup satu-dua hari, tetapi bisa dimulai dari kesadaran diri,” katanya.

Persoalan sampah makanan tidak cukup diselesaikan dengan mengandalkan perubahan perilaku individu. Tanggung jawab industri, kebijakan pemerintah, dan sistem pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari solusi.

Dalam diskusi tersebut, para siswa mengajukan sejumlah pertanyaan kritis, mulai dari tanggung jawab industri besar sebagai penyumbang sampah makanan, perlunya payung hukum seperti yang diterapkan Singapura, hingga strategi menjangkau kelompok masyarakat yang belum memiliki akses memadai terhadap edukasi lingkungan.

Asra menilai, penanganan sampah makanan perlu dilihat dari dimensi sosial, hukum, dan politik. Karena itu, upaya meningkatkan kesadaran masyarakat perlu disertai advokasi agar pemerintah menerbitkan regulasi yang relevan.

Sementara itu, dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Unhas, Pusparida Syahdan, S.Sos., M.Si., memaparkan Gerakan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah Kota Makassar. Melalui gerakan tersebut, tanggung jawab pengelolaan sampah didorong untuk dimulai dari sumbernya.

Setiap rumah tangga di Makassar diharapkan memilah sampah ke dalam empat kategori, yakni organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.

“Kita tidak perlu menstigma sampah, karena sampah adalah bagian dari kita juga. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola sampah yang kita hasilkan sendiri dan bertanggung jawab atas konsumsi kita,” ujar Pusparida.

Ia juga mendorong pelajar mengambil bagian dalam mendorong perubahan kebijakan. Salah satunya dengan mengajukan pertanyaan kritis mengenai persoalan lingkungan kepada calon anggota legislatif saat masa kampanye mendatang.

Diskusi tersebut tidak hanya diisi pemaparan materi. Para peserta mengikuti permainan edukatif dan kuis tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (*Sustainable Development Goals*/SDGs), khususnya tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Pemahaman siswa juga diukur melalui tes sebelum dan sesudah kegiatan. Antusiasme peserta terlihat ketika delapan siswa, termasuk Ketua OSIS SMAN 5 Makassar, menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman.

Sejumlah siswa mengungkapkan praktik pengelolaan sampah yang telah mereka jalankan. Salah satunya memanfaatkan maggot untuk mengolah sisa makanan dari usaha kuliner. Siswa lainnya berbagi pengalaman mengenai program OSIS yang mengubah sampah menjadi kompos.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat menjadi pintu masuk bagi pelajar untuk mengembangkan solusi konkret di lingkungan masing-masing.

Guru Besar Departemen Hubungan Internasional FISIP UI, Prof. Dr. Fredy Buhama Lumban Tobing, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Ia turut menyoroti persoalan sisa makanan di sekolah, termasuk di lingkungan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ketua Program Studi Sarjana Hubungan Internasional FISIP Unhas, Prof. Seniwati Ismail, M.Hum., Ph.D., menyambut kolaborasi tersebut sebagai kesempatan bagi para siswa untuk memperluas wawasan sekaligus mengenal lebih dekat dunia pendidikan tinggi.

Program literasi Zero Food Waste di Makassar merupakan seri ketiga yang diselenggarakan Departemen Hubungan Internasional FISIP UI. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Depok bersama Yonsei University dan Ban Ki-moon Foundation, serta di Denpasar melalui kerja sama dengan Universitas Udayana.

Melalui kolaborasi dengan Unhas dan SMAN 5 Makassar, program tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda mengenai konsumsi yang bertanggung jawab. Upaya mengurangi sampah makanan diharapkan tidak berhenti pada kebiasaan menghabiskan makanan, tetapi juga berkembang menjadi kepedulian terhadap sistem produksi, pengelolaan sampah, dan kebijakan lingkungan.

Lihat di situs asli

Berita terkait