Nasional

Ini Alasan Otak Suka Overthinking pada Malam Hari

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang kesulitan untuk rileks saat malam tiba, meski tubuh sudah lelah setelah beraktivitas seharian. Alih-alih tenang, justru muncul rasa gelisah, overthinking, hingga kecemasan yang membuat...

12 Juni 2026, pukul 03:40 WIB · dibaca 1 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang kesulitan untuk rileks saat malam tiba, meski tubuh sudah lelah setelah beraktivitas seharian. Alih-alih tenang, justru muncul rasa gelisah, overthinking, hingga kecemasan yang membuat malam terasa lebih berat.

Menanggapi hal ini, psikoterapis sekaligus pendiri Gateway of Healing, dr Chandni Tugnait, mengatakan malam hari adalah momen ketika sistem saraf yang sudah lelah sepanjang hari akhirnya berada dalam kondisi hening. Namun, dalam kondisi tersebut, tubuh justru belum sepenuhnya siap beradaptasi dengan keheningan itu sehingga memicu rasa gelisah dan cemas.

Baca Juga

"Bagi banyak orang, malam hari bukanlah waktu istirahat, melainkan seperti rekap tidak terencana dari hari yang terlalu penuh untuk diproses. Ini bukan kegagalan pribadi atau gangguan tidur, tetapi terjadi ketika sistem saraf sudah terlalu terbebani sepanjang hari dan akhirnya diberi momen hening; ia tidak benar-benar tahu harus berbuat apa," kata dr Chandni dikutip dari Hindustan Times, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, ada tiga penyebab utama mengapa kecemasan cenderung meningkat pada malam hari. Pertama, otak tidak mendapatkan waktu untuk berhenti selama siang hari. Sepanjang hari, otak terus dipenuhi notifikasi, tenggat waktu, serta kebisingan digital.

Overthinking (ilustrasi). - (Dok. Freepik)

 

"Jadi ketika malam tiba dan suasana menjadi tenang, berbagai stres serta kekhawatiran yang belum terselesaikan akhinya muncul ke permukaan," kata dia.

Kedua, hormon stres seperti kortisol masih dapat aktif pada malam hari. Dokter Chandni mengatakan secara alami kortisol seharusya menurun di malam hari mengikuti ritme tubuh. Namun paparan stres dan stimulasi berlebihan di siang hari dapat mengganggu siklus ini.

Akibatnya, kadar kortisol tetap tinggi dan membuat sistem saraf terus berada dalam kondisi waspada, seolah-olah ada ancaman yang sebenarnya tidak ada. Kondisi ini membuat tubuh terasa gelisah, siaga, dan sulit untuk benar-benar rileks.

 

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait