JAKARTA— Rasa malu merupakan salah satu akhlak mulia yang memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam.
Bukan sekadar perasaan sungkan atau takut dinilai orang lain, malu adalah cerminan kehidupan hati yang mendorong seseorang menjauhi perbuatan tercela, menahan diri dari kemaksiatan, serta menjaga kehormatan diri dan orang lain.
Baca Juga- Keluarga yang Diinginkan Alquran: Suami Benteng dan Langit, Istri Laksana Bumi Tempat Berpijak
- Keluarga yang Diinginkan Alquran: Cerminan Anak Gadis Terhormat Penyejuk Hati
- Keluarga yang Diinginkan Alquran: Bagaimana Seharusnya Anak Laki-laki yang Ideal?
Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa rasa malu merupakan bagian dari iman dan menjadi salah satu sifat yang dicintai Allah SWT.
Sebaliknya, hilangnya rasa malu dapat membuka pintu bagi seseorang untuk melakukan berbagai keburukan tanpa merasa bersalah.
Rasulullah SAW bersabda:
إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستحي فاصنع ما شئت
“Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang masih dikenal manusia adalah: Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari).
Imam Ibnu Qayyim dalam ad-Da' wa ad-Dawa’ menjelaskan rasa malu berasal dari kata kehidupan. Hati yang hidup akan menjadikan pemiliknya memiliki rasa malu yang mencegahnya melakukan perbuatan tercela.
Sebab, kehidupan hati merupakan sesuatu yang menghalangi seseorang dari perbuatan buruk yang dapat merusak hati.
“Orang yang hidup akan berusaha menolak segala sesuatu yang membahayakan dirinya, berbeda dengan orang mati yang tidak memiliki kehidupan,” tulis Ibnu Qayyim.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika