Nasional

Inovasi PLTS Atap Pupuk Kaltim Pangkas Emisi hingga 10 Ribu Ton CO2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) terus memperkuat inovasi energi bersih melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang terintegrasi dengan operasional industri. Direktur Manajemen Risiko...

13 Oktober 2026, pukul 01:21 WIB · dibaca 2 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) terus memperkuat inovasi energi bersih melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang terintegrasi dengan operasional industri. Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, mengatakan inovasi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendorong transisi energi dan dekarbonisasi industri.

“Melalui pemanfaatan PLTS Atap, kami berupaya membuktikan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan keandalan operasional industri,” ujar Maslani dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Baca Juga

Maslani mengatakan total kapasitas terpasang PLTS Atap Pupuk Kaltim saat ini mencapai 3,8 megawatt peak (MWp), dengan produksi energi sebesar 4.723.458 kilowatt-hour (kWh) per tahun. Maslani menyampaikan bahwa implementasi PLTS Atap selama periode 2022–2025 berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 10.702,38 ton CO₂ ekuivalen.

Dia mengatakan pengembangan PLTS Atap merupakan bagian dari upaya perusahaan mengintegrasikan energi baru terbarukan (EBT) ke dalam kegiatan operasional secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan. Pupuk Kaltim, lanjut dia, mengembangkan PLTS Atap secara bertahap di area nonpabrik dan pabrik yang terhubung dengan jaringan listrik lokal berbasis Gas Turbine Generator (GTG).

“Dari total kapasitas terpasang 3,8 MWp, Fase 1 berkapasitas 1,2 MWp dan Fase 2 sebesar 2,6 MWp,” ucap Maslani.

Maslani menyampaikan bahwa sistem PLTS Atap tersebut memiliki availability factor sebesar 98–98,6 persen. Tingkat ketersediaan ini menunjukkan pemanfaatan energi surya berpotensi menjadi bagian dari sistem energi pendukung industri tanpa mengabaikan aspek keandalan operasional.

“Capaian ini menunjukkan energi surya dapat menjadi bagian dari sistem energi pendukung industri dengan tingkat ketersediaan yang tinggi,” lanjut Maslani.

Selain mendukung kebutuhan listrik fasilitas perusahaan, Pupuk Kaltim, sambung dia, memperluas pemanfaatan energi surya untuk membangun ekosistem energi terbarukan yang terintegrasi. Salah satu langkahnya adalah memanfaatkan energi tersebut untuk mendukung operasional kendaraan listrik (electric vehicle), termasuk elektrifikasi transportasi operasional perusahaan.

“Bagi kami, pengembangan PLTS Atap tidak berhenti pada pemasangan panel surya. Kami membangun ekosistem energi yang saling terhubung, mulai dari pembangkit, pemanfaatan energi untuk operasional, hingga dukungan terhadap kendaraan listrik,” ungkap Maslani.

Upaya elektrifikasi transportasi juga dilakukan melalui pengalihan penggunaan bus konvensional menjadi bus listrik yang memanfaatkan energi dari PLTS. Maslani menyampaikan bahwa inisiatif ini berhasil menghemat bahan bakar minyak (BBM) sebesar 3.945,46 liter dan menekan emisi hingga 0,45 ton CO₂.

“Dari sisi ekonomi, Pupuk Kaltim mengembangkan kolaborasi dengan anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup yang memiliki Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL),” sambung Maslani.

Ia menyampaikan bahwa kolaborasi melalui skema Power Purchase Agreement (PPA) tersebut ditujukan untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan. Maslani menjelaskan bahwa inisiatif ini menghasilkan penghematan energi sekitar 20 persen, setara dengan 5.815.575 kWh, serta estimasi penghematan biaya operasional tahunan sekitar 29.800 dolar AS. Efisiensi tersebut didukung pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan operasional dan stasiun pengisian daya kendaraan listrik.

“Pengembangan PLTS Atap juga mencakup aspek sosial dan pemberdayaan masyarakat,” ucap dia.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait